Topics Covered: Mentan pastikan kualitas stok beras baik dan layak salur
Kualitas Stok Beras Nasional Tetap Terjaga
Topics Covered – Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kualitas stok beras nasional terus dipantau secara ketat dan tetap dalam kondisi baik serta aman untuk distribusi ke seluruh wilayah Indonesia. Pernyataan ini disampaikan selama Rapat Kerja Komisi IV DPR RI, Rabu, yang menjadi wadah untuk menanggapi kekhawatiran anggota komisi tersebut terkait perlunya percepatan perputaran beras dalam gudang.
Prosentase Kerusakan Stok Terbatas
Dalam rapat tersebut, Mentan menyebutkan total stok beras nasional mencapai sekitar 5,3 juta ton. Menurutnya, dari jumlah tersebut hanya sekitar 3.619 ton yang mengalami kerusakan, yaitu volume yang relatif kecil dibandingkan seluruh stok. Pengawasan dan tindakan pemerintah telah memastikan bahwa kebanyakan beras tetap terjaga kualitasnya. Ia menegaskan bahwa upaya ini dilakukan untuk menjaga kebutuhan masyarakat sepanjang tahun.
“Di Jawa Timur, stok beras totalnya mencapai 1,4 juta ton, dengan sebagian besar dalam kondisi baik. Namun, 400 ribu ton dari total tersebut telah tersimpan lebih dari satu tahun. Jadi, mohon perhatian khusus agar proses distribusinya bisa lebih cepat lagi,” kata Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto.
Analisis Kualitas Berdasarkan Kategori
Mentan menjelaskan bahwa data kualitas beras diumumkan oleh Perum Bulog. Berdasarkan laporan tersebut, 93.488 ton atau 1,76 persen stok termasuk kategori beras yang mutu turun. Namun, beras ini masih bisa direproses untuk kembali layak digunakan. Selain itu, tidak ada stok beras yang termasuk kategori B yang harus dibuang, seperti yang disebutkan Titiek Soeharto.
Secara khusus, stok beras kategori C—yang mengalami kerusakan akibat bencana seperti banjir dan longsor—tercatat sebanyak 3.619 ton. Untuk stok ini, Mentan menjelaskan bahwa sebagian kecil dari total bisa diubah menjadi tepung beras sehingga tetap memiliki nilai ekonomi. Ia menegaskan bahwa beras yang tidak bisa diperbaiki tersebut hanya sekitar 10 persen dari jumlah yang rusak, atau sekitar 9 ribu ton dari 93.488 ton.
Pengambilan Langkah Korektif
Menanggapi kekhawatiran Titiek Soeharto, Mentan mengatakan pemerintah secara langsung melakukan langkah korektif jika kualitas beras menurun. Ia menambahkan bahwa Perum Bulog diminta untuk melaporkan kondisi sebenarnya stok beras. “Kita harus jujur dan terbuka, karena jika tidak, mungkin 9 ribu ton beras tersebut bisa dijadikan tepung, dan harganya tetap bagus,” ujarnya.
Dalam kunjungan lapangan, Mentan menemukan beberapa kasus beras dengan kualitas kurang memadai. Ia menjelaskan bahwa pihaknya langsung menghubungi Bulog untuk mengganti beras tersebut hari itu juga. “Kami temukan seperti yang Ibu (Titiek Soeharto) sebutkan tadi, di lapangan, maka kami telepon Bulog dan mereka langsung ganti. Jumlahnya kecil, tetapi kita tetap waspada,” tambahnya.
Kebijakan Jangka Panjang
Mentan menegaskan bahwa situasi saat ini menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan produksi dan cadangan beras nasional. Ia menjelaskan bahwa tingkat kerusakan stok lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, karena volume beras yang dimiliki kini lebih besar. “Kalau dulu banyak beras yang rusak karena stoknya tidak cukup, sehingga harus mengimpor. Sekarang kita sudah cukup stabil, dan tidak perlu khawatir,” ujarnya.
Pengawasan terhadap stok beras dilakukan secara berkala, termasuk inspeksi langsung ke gudang. Selain itu, sistem distribusi ditingkatkan agar tidak ada penumpukan beras yang terlalu lama. Mentan juga menyoroti peran Bulog sebagai badan yang bertugas mengelola stok pangan. “Kami minta mereka lebih waspada dari sekarang, agar tidak ada stok yang berkualitas rendah,” lanjutnya.
Analisis Mutu dan Strategi Jangka Panjang
Dari total stok nasional, 5.305.594 ton berada dalam kondisi baik. Mutu beras yang turun diakui sebagai bagian kecil dari keseluruhan, tetapi pemerintah tetap mengambil langkah-langkah untuk memperbaikinya. Mentan menyebutkan bahwa strategi ini melibatkan pemanfaatan teknologi dan metode penyimpanan modern untuk meminimalkan risiko kerusakan. Selain itu, regulasi tentang standar kualitas beras juga diperketat agar setiap pengiriman ke masyarakat memenuhi persyaratan.
Kebijakan pemerintah dalam memastikan kualitas beras mencakup penguatan pengawasan di lapangan, penggunaan alat pengujian mutu, dan peningkatan kapasitas penyimpanan. Mentan menjelaskan bahwa stok yang cukup besar memberikan ruang untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat, bahkan dalam situasi darurat seperti bencana alam. “Kita sudah setengah mati bekerja, Alhamdulillah ada yang rusak karena berasnya ada. Kalau dulu tidak rusak karena berasnya yang kurang, maka impor harus masuk,” pungkasnya.
Dengan adanya pengawasan yang lebih ketat, pemerintah optimis bahwa stok beras tetap layak untuk distribusi jangka panjang. Mentan menekankan bahwa keberhasilan ini tidak hanya tergantung pada volume stok, tetapi juga pada upaya bersama antara instansi terkait dan penyedia beras. “Penting untuk memastikan bahwa setiap beras yang dikeluarkan ke masyarakat memiliki kualitas terbaik,” tambahnya.
Pendekatan ini juga berdampak pada kebijakan pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada beras impor. Dengan stok nasional yang stabil, negara bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan. Mentan berharap kebijakan ini terus ditingkatkan agar tidak hanya kualitas, tetapi juga kuantitas beras nasional bisa terjaga sepanjang tahun.
