Special Plan: FAO Indonesia jadikan Tri Hita Karana contoh transformasi pertanian

9a6b9962-6e2a-4170-8df8-8d34f9277e9a_1_1

Special Plan: FAO Indonesia Mengadopsi Tri Hita Karana sebagai Model Pertanian Berkelanjutan

Special Plan adalah inisiatif global yang semakin menarik perhatian dalam bidang pertanian berkelanjutan. Dalam rangka mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) mengangkat filosofi Tri Hita Karana dari masyarakat Bali sebagai contoh penerapan transformasi pertanian yang inovatif. Kepala Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste, Rajendra Aryal, menyampaikan penekanan pada Special Plan selama Dialog Global Transformasi Padi Berkelanjutan di Denpasar, Senin lalu. “Filosofi ini telah berdiri selama berabad-abad dan menjadi pengingat bagaimana keharmonisan antara manusia, alam, dan Tuhan bisa membentuk sistem pertanian yang tangguh,” katanya.

Filosofi Tri Hita Karana: Keseimbangan yang Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Filosofi Tri Hita Karana, yang terkenal di Bali, berfokus pada tiga aspek keseimbangan: hubungan harmonis antarmanusia, manusia dengan lingkungan, serta manusia dengan Tuhan atau kekuatan spiritual. Aryal menekankan bahwa Special Plan ingin mengeksplorasi prinsip ini untuk menginspirasi transformasi pertanian di berbagai wilayah. Konsep Tri Hita Karana bukan hanya membentuk identitas budaya masyarakat Bali, tetapi juga menjadi fondasi dalam praktik pertanian lokal yang ramah lingkungan. “Dengan Special Plan, kita bisa menunjukkan bagaimana kearifan tradisional masih relevan dalam menghadapi tantangan modern,” tambahnya.

Special Plan mendorong kolaborasi antar negara dan masyarakat lokal untuk menciptakan pertanian yang berkelanjutan,” kata Aryal.

Dalam konteks ini, sistem pertanian Bali yang mengikuti prinsip Tri Hita Karana memberikan solusi konkret. Masyarakat Bali telah mengembangkan pengelolaan air irigasi yang efisien dan berkelanjutan sejak lama, seperti teknik penyiraman bergantian. Aryal menjelaskan bahwa Special Plan ingin memperluas metode ini ke luar negeri, terutama untuk negara-negara yang menghadapi masalah krisis air dan peningkatan emisi karbon.

Subak Jatiluwih: Contoh Sukses dalam Penerapan Special Plan

Kawasan pertanian Subak Jatiluwih di Kabupaten Tabanan, Bali, menjadi simbol penerapan Special Plan yang sukses. Subak ini tidak hanya menghasilkan panen yang optimal, tetapi juga menggabungkan nilai-nilai spiritual, sosial, dan ekonomi. Aryal mengungkapkan bahwa Subak Jatiluwih diakui sebagai situs warisan budaya tak benda oleh UNESCO, sehingga bisa menjadi referensi bagi negara-negara lain dalam menerapkan Special Plan.

Metode pertanian di Subak Jatiluwih menunjukkan bagaimana Special Plan bisa menciptakan keberlanjutan melalui pengelolaan sumber daya alam yang bijak. Teknik seperti penggunaan air secara seimbang dan pengurangan bahan kimia berlebihan membantu menjaga ekosistem pertanian. Selain itu, kegiatan spiritual seperti doa sebelum menanam atau panen menjadi bagian penting dari Special Plan, menegaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang harmoni dalam kehidupan sehari-hari.

Kolaborasi Internasional: Special Plan Sebagai Platform Pertanian Berkelanjutan

Dalam dialog yang dihadiri oleh 20 delegasi dari 12 negara di Asia dan Afrika, Special Plan menjadi topik utama dalam mengeksplorasi pengelolaan air irigasi yang efektif. Aryal menegaskan bahwa Special Plan ingin membangun kerja sama lintas batas untuk memecahkan masalah krisis air dan degradasi tanah. “Pertanian berkelanjutan membutuhkan Special Plan yang mengintegrasikan ilmu lokal dengan inovasi global,” jelasnya.

Special Plan juga menyoroti pentingnya kebijakan pemerintah dalam mendukung transformasi pertanian. Aryal menekankan bahwa penguatan insentif pasar dan pengembangan varietas padi tahan iklim adalah langkah krusial dalam mewujudkan Special Plan. Dengan memadukan teknik tradisional seperti Tri Hita Karana dan pendekatan modern, Special Plan menawarkan solusi yang berkelanjutan dan inklusif untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Special Plan adalah langkah awal menuju pertanian yang lebih berkelanjutan, menggabungkan kearifan lokal dan pengetahuan global,” ujarnya.

Langkah-Langkah Special Plan: Membangun Pertanian yang Berkelanjutan dan Sosial

Aryal menyoroti tiga aspek kunci yang menjadi fondasi Special Plan: penggunaan varietas padi unggul, integrasi sistem pertanian, dan penguatan kebijakan pendukung. Ia menjelaskan bahwa pengembangan varietas padi tahan iklim dan pengoptimalan penggunaan air dapat diterapkan di berbagai wilayah. “Melalui Special Plan, kita bisa mengurangi emisi metana hingga 20-30 persen sekaligus meningkatkan produktivitas,” tambahnya.

Metode Special Plan juga menekankan keadilan sosial dalam distribusi hasil pertanian. Aryal mengatakan bahwa penerapan Tri Hita Karana di Bali menjadi contoh bagaimana Special Plan bisa menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya efisien, tetapi juga adil. “Dengan Special Plan, kita bisa menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” pungkasnya.