Solution For: 600 ha sawah di Nagan Raya kekeringan akibat saluran irigasi dangkal

20260608-irigasi-tersumbat

600 Ha Sawah di Nagan Raya Mengalami Kekeringan Akibat Saluran Irigasi yang Dangkal

Solution For – Kabupaten Nagan Raya, Aceh, tengah menghadapi tantangan serius dalam sektor pertanian. Sebanyak 600 hektare lahan sawah di dua kecamatan, yaitu Kuala dan Suka Makmue, terancam kekeringan karena saluran irigasi Jeuram mengalami pendangkalan. Hal ini memicu kebutuhan mendesak dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) setempat agar Balai Pengairan Provinsi Aceh segera melakukan normalisasi saluran tersebut.

Sistem Irigasi yang Mengalami Gangguan

Saluran Irigasi Jeuram, atau Daerah Irigasi Jeuram, merupakan jaringan vital yang mengaliri lahan pertanian seluas 12.000 hektare. Sistem ini memanfaatkan Saluran Induk Seunagan sebagai saluran utama, serta beberapa saluran sekunder seperti Ukam, Kuta Jeumpa Lempe, dan Blang Pui. Ketersediaan air dari saluran ini sangat penting dalam menjaga ketahanan pertanian, terutama di wilayah yang bergantung pada musim hujan untuk keberlanjutan pengairan.

Pendangkalan saluran menjadi permasalahan utama yang menghambat aliran air secara signifikan. Marzuki, Kepala Distannak Nagan Raya, menyatakan bahwa akumulasi sedimen pasir dan lumpur menyebabkan tingkat debit air menjadi sangat rendah. “Kami berharap pihak provinsi dapat segera mengambil tindakan, seperti pengerukan saluran, untuk mengatasi masalah pendangkalan ini,” ujarnya dalam wawancara dengan ANTARA, Senin.

Dampak Kekeringan pada Produktivitas Pertanian

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu keberlanjutan tanam selama musim kemarau. Marzuki menegaskan bahwa tanpa penanganan cepat, sektor pertanian di daerah tersebut bisa mengalami penurunan hasil yang signifikan. “Keterlambatan normalisasi saluran akan memengaruhi proses pengolahan tanah, yang membutuhkan pasokan air stabil,” tambahnya.

Pendangkalan saluran telah mengakibatkan penurunan air di tingkat hilir, yang menyebabkan kelangkaan air di beberapa desa. Situasi ini berpotensi memicu konflik antar petani, terutama ketika persaingan sumber air menjadi semakin ketat. “Jika tidak segera diperbaiki, petani mungkin akan berebut air untuk menjaga keberlanjutan sawah mereka,” jelas Marzuki.

Kelangkaan air di daerah tersebut juga berdampak pada ketersediaan bahan pangan lokal. Distannak mencatat, selama musim kemarau, hampir separuh dari 600 hektare lahan sawah di Kecamatan Kuala dan Suka Makmue mengalami kekeringan. Dampak ini diperparah karena dua desa, yaitu Seumambek dan Macah, termasuk dalam kategori sawah tadah hujan. Lahan tersebut tidak memiliki cadangan air alternatif, sehingga sangat rentan terhadap perubahan iklim atau faktor cuaca.

Sebaran Kekeringan di Wilayah Terdampak

Dalam rincian lebih lanjut, lahan sawah yang mengalami kekeringan tersebar di 11 desa/gampong. Di Kecamatan Kuala, desa-desa seperti Ujong Pasi (105 Ha), Alue Ie Mameh (80,25 Ha), Simpang Peut (76,5 Ha), dan Blang Muko (73 Ha) menjadi korban terbesar. Di sisi lain, desa Blang Bintang (51,2 Ha), Ujong Patihah (48 Ha), Cot Kumbang (45 Ha), Blang Baro (40 Ha), serta Kuta Makmue (35 Ha) juga terkena dampak serupa, meski sebagian masih memiliki sedikit cadangan air.

Di Kecamatan Suka Makmue, dua desa, yaitu Seumambek (30,34 Ha) dan Macah (68,38 Ha), mencatat kerusakan yang lebih parah. Karena sifatnya sebagai sawah tadah hujan, kedua wilayah ini sangat bergantung pada air yang mengalir melalui saluran Jeuram. “Selama ini, saluran ini menjadi satu-satunya sumber air untuk sebagian besar petani di sini,” kata Marzuki.

Masalah pendangkalan saluran tidak hanya berdampak pada hasil pertanian, tetapi juga meningkatkan risiko konflik sosial. Marzuki mengungkapkan bahwa persaingan air antar petani bisa memicu ketegangan di tingkat masyarakat. “Jika kondisi ini dibiarkan, kita bisa melihat adanya gesekan antar warga karena saling berebut air untuk kebutuhan sawah mereka,” imbuhnya.

Upaya Normalisasi Saluran Irigasi

Pemerintah setempat telah meminta Balai Pengairan Provinsi Aceh untuk segera melibatkan tim teknis ke lapangan. Tindakan pengerukan sedimen diharapkan dapat mengembalikan fungsi optimal saluran Jeuram, sehingga mampu mengaliri lahan pertanian secara merata. Marzuki juga menekankan bahwa normalisasi saluran ini menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan dan semangat petani dalam bercocok tanam.

Menurutnya, sektor pertanian Nagan Raya tidak hanya merupakan pilar ekonomi lokal, tetapi juga menyumbang kebutuhan pangan bagi masyarakat sekitar. “Kerusakan saluran ini berpotensi mengganggu produksi pangan, sehingga diperlukan tindakan serius dari pihak provinsi,” tutur Marzuki. Ia menambahkan bahwa kekeringan di wilayah ini bisa terjadi setiap tahun jika tidak ada upaya pengendalian.

Distannak juga memperkirakan bahwa jika pendangkalan saluran tidak segera diatasi, kebutuhan air bagi sawah akan semakin sulit terpenuhi. Terutama di musim kemarau, ketika curah hujan rendah, saluran Jeuram yang dangkal tidak mampu memenuhi volume air yang diperlukan. Marzuki menyoroti bahwa keterlambatan dalam penanganan ini akan memperparah kondisi, hingga menyebabkan kegagalan panen dan penurunan pendapatan petani.

Keluhan dari petani terus berdatangan, terutama dari wilayah yang lebih rentan terhadap cuaca kering. Marzuki menegaskan bahwa masalah ini membutuhkan respons cepat dari pihak terkait, karena jika tidak, risiko krisis pangan dan konflik horizontal di lapangan akan semakin tinggi. “Kami berharap Balai Pengairan Provinsi Aceh memprioritaskan normalisasi saluran Jeuram untuk menghindari kerusakan lebih lanjut,” pungkasnya.