Pelabuhan Bengkulu targetkan arus kargo curah cair 2026 naik 30 persen

1000750738

Pelabuhan Bengkulu Targetkan Arus Kargo Curah Cair Naik 30 Persen Tahun 2026

Pelabuhan Bengkulu targetkan arus kargo curah – Port Bengkulu, khususnya Pelabuhan Pulau Baai, tengah berupaya meningkatkan kapasitas distribusi kargo curah cair hingga 30 persen pada tahun 2026. Dalam wawancara di Bengkulu, Rabu, Branch Manager PTP Nonpetikemas Cabang Bengkulu, Mochammad Choiron Yusuf, menyatakan bahwa target tersebut mencakup peningkatan volume kargo secara signifikan. “Kami berupaya meningkatkan arus distribusi kargo curah cair sebesar 30 persen, baik dari total kargo yang diproses di Bengkulu maupun secara umum,” ujarnya. Ia menambahkan, saat ini volume kargo curah cair yang dipindahkan dari truk ke kapal telah mencapai 212.700 ton hingga Mei 2026, meningkat drastis dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang hanya sekitar 122.000 ton.

“Kami memperkirakan peningkatan sekitar 30 persenan untuk seluruh kargo yang diproses di Bengkulu. Dari target awal 400.000 ton per tahun, kami berharap bisa mencapai angka 600.000 ton,” tutur Choiron.

Peningkatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif pada kinerja pelabuhan sebagai pusat logistik kawasan. Sistem drop tank, yang baru dioperasikan, menjadi salah satu faktor kunci dalam mendorong peningkatan ini. Menurut Choiron, layanan ini memungkinkan kemasan kargo curah cair dari truk ke kapal berlangsung lebih cepat, bahkan dua kali lipat dibandingkan metode konvensional sebelumnya. “Drop tank ini telah beroperasi sekitar satu bulan terakhir, sejak Mei 2026, dan sudah melayani dua kali pemuatan kargo curah cair,” jelasnya.

Operasional Drop Tank dan Efisiensi Pemuatan

Sistem drop tank berfungsi sebagai penghubung antara transportasi darat dan laut, mempercepat proses pemuatan dengan mengurangi langkah-langkah manual. Beroperasi sejak Mei 2026, layanan ini telah memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan efisiensi operasional pelabuhan. Choiron menjelaskan bahwa kargo curah cair yang dipindahkan melalui sistem ini membutuhkan waktu lebih singkat dibandingkan metode tradisional, yang sebelumnya memakan waktu lima hingga enam hari. Dengan drop tank, waktu pemuatan kini diperkirakan berkurang menjadi tiga hari.

“Drop tank ini tidak bisa digunakan untuk berbagai jenis produk secara bersamaan, sehingga kami membagi dua unit dengan tujuan spesifik,” kata Choiron. “Satu unit digunakan untuk produk olein, sedangkan satu lagi khusus untuk stearin dan PFAD. Stearin sendiri merupakan fraksi padat hasil penyaringan minyak kelapa sawit setelah dipurnikan, sementara PFAD adalah produk sampingan dari proses penyulingan minyak sawit mentah.”

Keberhasilan sistem ini tidak hanya terkait dengan kecepatan pemuatan, tetapi juga dengan pengurangan risiko kerusakan produk selama proses transfer. Sistem drop tank dirancang agar kargo bisa diangkut secara lebih aman, terutama untuk barang yang rentan terhadap perubahan suhu atau tekanan. Dengan adanya dua unit drop tank, pihak pelabuhan mampu menangani berbagai jenis kargo curah cair secara terpisah, memastikan efisiensi dan kualitas distribusi tetap terjaga.

Optimisme tentang pencapaian target tahun 2026 juga didasari oleh perbaikan infrastruktur dan manajemen logistik yang terus dilakukan. Dalam waktu dekat, pihak pengelola berencana memperluas kapasitas pengoperasian drop tank agar bisa melayani lebih banyak muatan. “Kami sedang melakukan evaluasi terus-menerus untuk memastikan sistem ini bisa berjalan optimal dan mendukung pertumbuhan kargo secara konsisten,” imbuh Choiron. Selain itu, peningkatan volume kargo curah cair diharapkan meningkatkan penerimaan pendapatan pelabuhan serta mendukung ekonomi lokal melalui aktivitas perdagangan yang lebih intens.

Pelabuhan Bengkulu telah menjadi pusat distribusi penting bagi industri kelapa sawit dan produk turunannya di daerah tersebut. Dengan sistem drop tank yang dijalankan, pelabuhan ini berpotensi menjadi lebih kompetitif dibandingkan pelabuhan lain di kawasan Sumatra. Peningkatan 30 persen dalam arus kargo curah cair tahun 2026 bukan hanya angka yang signifikan, tetapi juga mencerminkan komitmen pengelola untuk mendorong pertumbuhan sektor logistik. “Ini adalah langkah strategis untuk meningkatkan kemampuan pelabuhan dalam menangani kebutuhan pasar yang semakin meningkat,” tegas Choiron.

Dalam jangka panjang, implementasi sistem drop tank diperkirakan akan memberikan dampak yang lebih luas. Tidak hanya efisiensi waktu, tetapi juga mengurangi biaya operasional bagi para pengusaha. Peningkatan kecepatan pemuatan berarti pengiriman bisa lebih tepat waktu, mengurangi risiko penundaan dalam rantai pasok. Selain itu, peningkatan volume kargo juga akan mendorong pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jalan raya dan fasilitas penyimpanan, yang diperlukan untuk menunjang aktivitas logistik.

Keberhasilan Pelabuhan Bengkulu dalam meningkatkan distribusi kargo curah cair menjadi contoh bagus bagi pelabuhan lain di Indonesia yang ingin menerapkan inovasi serupa. PTP Nonpetikemas Bengkulu, sebagai perusahaan yang mengelola pelabuhan ini, terus berupaya memperbaiki layanan dengan mengadopsi teknologi dan metode terkini. “Kami berharap perbaikan ini bisa menjadi acuan bagi pelabuhan-pelabuhan lain dalam meningkatkan produktivitas dan kecepatan pemuatan,” tutur Choiron. Dengan semangat tersebut, Pelabuhan Bengkulu optimis mampu mencapai target tahun 2026 serta memperkuat posisi sebagai pelabuhan utama di kawasan tersebut.