New Policy: Pertamina jelaskan beda harga Pertamax-Pertalite di struk pembelian

1000368941

New Policy: Pertamina Jelaskan Perbedaan Harga Pertamax dan Pertalite di Struk Pembelian

New Policy – PT Pertamina Patra Niaga meluncurkan new policy terkait penjelasan perbedaan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax dan Pertalite yang tercantum dalam struk pembelian. Kebijakan ini diharapkan memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai pengaruh subsidi dan harga pasar terhadap tarif bahan bakar. Dalam new policy ini, Pertamina menegaskan bahwa harga Pertalite berbeda dari Pertamax karena peran serta mekanisme distribusinya yang berbeda.

Perbedaan Tarif BBM Berdasarkan Kebijakan Subsidi

Pertamina menjelaskan bahwa harga Pertalite mencantumkan angka harga keekonomian Rp18.040 per liter. Namun, angka ini hanya sebagai indikator ekonomi, bukan harga yang harus dibayar oleh konsumen. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengklarifikasi bahwa new policy ini bertujuan menjelaskan perbedaan antara harga subsidi dan harga pasar, serta peran Pertamina sebagai pelaksana kebijakan subsidi yang ditetapkan pemerintah.

“Kebijakan subsidi BBM berlaku untuk menjaga aksesibilitas harga bagi kelompok masyarakat tertentu. Harga Pertalite yang tercantum di struk adalah harga jual yang diatur pemerintah, sementara harga keekonomian menggambarkan nilai bahan bakar jika tidak ada subsidi,” kata Roberth dalam keterangan resmi.

Peran Pertamina dalam Kebijakan New Policy

Dalam new policy ini, Pertamina Patra Niaga dijelaskan sebagai operator yang menjalankan kebijakan subsidi yang telah ditentukan. Pertalite, sebagai BBM subsidi, dikelola melalui program penugasan khusus (JBKP) yang bertujuan mendorong akses energi bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Sementara Pertamax, yang merupakan BBM nonsubsidi, diatur berdasarkan dinamika pasar dan biaya produksi.

Perbedaan harga ini memicu pertanyaan di masyarakat, terutama karena harga keekonomian Pertalite sering dikaitkan dengan kebijakan subsidi. Roberth menegaskan bahwa new policy ini memberikan penjelasan transparan agar konsumen memahami bahwa harga di struk tidak selalu mencerminkan biaya yang dibayarkan langsung.

Program subsidi BBM dirancang untuk menjaga stabilitas harga dan menunjang pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini berdampak pada keberlanjutan sektor transportasi serta kebutuhan masyarakat. Dengan new policy ini, Pertamina berupaya menyampaikan informasi lebih lengkap mengenai peran BBM subsidi dan nonsubsidi dalam sistem distribusi.

Keberadaan harga keekonomian dalam struk Pertalite menjadi bagian dari new policy untuk membantu konsumen memahami dinamika tarif. Meskipun angka ini bukan harga aktual yang diterima, ia dianggap sebagai alat informasi yang berguna untuk menilai dampak subsidi terhadap biaya bahan bakar.

Dalam new policy ini, Pertamina juga menegaskan bahwa harga Pertalite tetap ditetapkan pemerintah melalui perhitungan berbagai faktor seperti inflasi, kebutuhan nasional, dan ketersediaan dana. Mekanisme ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara akses energi dan kinerja industri dalam jangka panjang.