New Policy: Kemenko Ekonomi: Transisi energi bagian integral pertumbuhan nasional

Kemenko Ekonomi: Transisi Energi sebagai Bagian Integral Pertumbuhan Nasional

New Policy – Di Jakarta, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menegaskan bahwa transisi energi adalah komponen utama dalam strategi pertumbuhan ekonomi nasional serta penanggulangan perubahan iklim. Pernyataan ini disampaikan oleh Farah Heliantina, Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi di Kemenko Perekonomian, dalam wawancara di Jakarta pada Selasa. Dalam konteks ini, transisi energi tidak hanya dianggap sebagai agenda kebijakan, tetapi juga sebagai elemen penting dalam pengembangan ekonomi yang berkelanjutan.

Perubahan Pola Pikir Masyarakat tentang Energi

Farah menyebut bahwa transisi energi saat ini menjadi fokus utama pemerintah, dengan tujuan mengubah cara pandang masyarakat tentang ketergantungan pada energi fosil. “Transisi energi bukan sekadar kebijakan, tapi juga bagian tak terpisahkan dari strategi ekonomi nasional,” ujarnya. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan dinamika harga energi global yang terus berfluktuasi akibat ketegangan geopolitik, terutama konflik antara Iran dan Amerika Serikat/Israel.

“Pergeseran paradigma ini menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui peralihan ke sumber daya hijau,” tambah Farah.

Ketahanan energi Indonesia, menurutnya, tidak lagi bisa bergantung pada satu jenis sumber daya, melainkan harus diimbangi antara energi fosil dan energi terbarukan. Transisi menuju energi bersih, kata dia, tidak hanya berdampak lingkungan, tetapi juga bertindak sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. “Energi bersih harus dilihat sebagai instrumen strategis yang mendorong pengembangan industri, menarik investasi, serta mewujudkan kemajuan bangsa secara berkelanjutan,” jelasnya.

Potensi Energi Terbarukan dan Pertumbuhan Ekonomi

Dalam upaya mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan sebesar 8 persen, pemerintah menilai transisi energi mampu membuka peluang industri hijau dan menciptakan lapangan kerja baru. “Dengan potensi energi terbarukan yang melimpah, Indonesia bisa mempercepat industrialisasi, terutama yang berbasis hijau,” ucap Farah. Ia menyoroti bahwa transisi ini bukan hanya untuk mengurangi emisi, tetapi juga sebagai cara memastikan stabilitas ekonomi jangka panjang.

“Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang sangat besar, dan kondisi ini menjadi momentum untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat,” tambahnya.

Kemenko Perekonomian juga mengemukakan pentingnya kerja sama antar pemangku kepentingan dalam mengembangkan potensi energi baru dan terbarukan. “Kemitraan yang solid antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat akan mempercepat penerapan energi hijau pada skala yang lebih luas,” jelas Farah. Ia menekankan bahwa transisi energi tidak bisa dilakukan secara terpisah dari kebijakan ekonomi yang holistik.

Target Pembangunan Energi Tenaga Matahari

Salah satu langkah strategis pemerintah adalah menetapkan target pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) dalam waktu tiga tahun ke depan. “Target ini menjadi bukti komitmen untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus mendukung tujuan 100 persen listrik dari energi terbarukan dalam 10 tahun mendatang,” papar Farah. Ia menegaskan bahwa capaian ini memerlukan kolaborasi yang intensif antar sektor.

“Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk mengembangkan energi bersih secara signifikan,” tambahnya.

Dalam rangka mendukung transisi tersebut, pemerintah telah mengalokasikan dana fiskal sebesar Rp402,4 triliun pada 2026 untuk memperkuat ketahanan energi nasional. “Dana ini akan digunakan untuk memacu investasi di bidang energi hijau, serta menjamin keberlanjutan pembangunan ekonomi,” jelas Farah. Ia juga menyebut bahwa program ini memberikan peluang bagi industri lokal untuk turut andil dalam pengembangan infrastruktur energi terbarukan.

Peluang Industri dan Ketenagakerjaan Hijau

Menurut Farah, transisi energi berpotensi menciptakan lapangan kerja hijau (green jobs) yang berdampak pada ekonomi dan lingkungan. “Industri energi hijau tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan mendorong inovasi di berbagai sektor,” ujarnya. Ia menekankan bahwa keberhasilan transisi ini bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat dan sektor swasta.

“Transisi energi adalah jalan untuk menciptakan ekonomi yang lebih resilien dan berkelanjutan,” kata Farah.

Sementara itu, kementerian menyoroti bahwa peningkatan kapasitas energi terbarukan akan menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi. “Dengan pemanfaatan sumber daya energi lokal, kita bisa mengurangi biaya impor energi dan meningkatkan daya saing nasional,” jelasnya. Ia juga menyebut bahwa transisi ini memerlukan penyesuaian regulasi dan dukungan teknologi yang terus mendorong inovasi.

Strategi Jangka Panjang untuk Energi Hijau

Kemenko Perekonomian menegaskan bahwa transisi energi harus dijalankan secara berkelanjutan dan tidak hanya sebagai kebijakan jangka pendek. “Energi hijau perlu diintegrasikan ke dalam berbagai sektor ekonomi, seperti pertanian, manufaktur, dan transportasi,” ujar Farah. Ia menambahkan bahwa transisi ini memerlukan pendekatan komprehensif, termasuk pengembangan teknologi, edukasi masyarakat, dan pembentukan kebijakan yang selaras dengan tujuan global.

“Peluang transisi energi tidak hanya menguntungkan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar,” tambahnya.

Farah juga menekankan pentingnya kesadaran bahwa energi terbarukan tidak hanya mampu mengurangi risiko ketergantungan pada impor, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat. “Dengan peningkatan kapasitas listrik dari energi surya, kita bisa mendukung kebutuhan energi yang semakin meningkat sambil menjaga ekosistem,” jelasnya. Ia berharap transisi ini bisa menjadi pola bagi negara-negara lain dalam menghadapi tantangan global.

Sebagai bagian dari upaya transisi energi, Kemenko Perekonomian menawarkan berbagai program pengembangan teknologi dan pelatihan yang bertujuan mempercepat adopsi energi hijau. “Kita harus memastikan bahwa transisi ini tidak hanya sekadar mengganti sumber energi, tetapi juga menciptakan keuntungan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkas Farah. Ia menambahkan bahwa keberhasilan transisi energi akan diukur dari tingkat partisipasi industri, ketersediaan infrastruktur, serta keberlanjutan penggunaan sumber daya alam.

Dengan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, transisi energi dianggap sebagai kunci untuk