New Policy: Ekonom: Konsistensi produksi pangan jadi kunci jaga inflasi 2026

New Policy: Konsistensi Produksi Pangan Jadi Kunci Jaga Inflasi 2026

New Policy menjadi salah satu strategi utama yang ditekankan oleh ekonom Universitas Indonesia (UI), Ninasapti Triaswati, dalam upaya menjaga stabilitas harga dan ekonomi nasional hingga akhir tahun 2026. Dalam kondisi ketidakpastian global dan tekanan pasar pangan yang terus meningkat, konsistensi produksi bahan pangan, khususnya beras, dianggap kritis untuk meminimalkan risiko kenaikan inflasi. “New Policy yang terfokus pada peningkatan kapasitas produksi lokal dan kebijakan pasokan yang terstruktur akan menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan ekonomi,” kata Ninasapti dalam pernyataan resmi di Jakarta, Sabtu.

Pertanian sebagai Pilar Ekonomi Nasional

Sektor pertanian dinilai sebagai salah satu penyangga utama perekonomian Indonesia, terutama dalam menghadapi tantangan eksternal. Menurut Ninasapti, keberhasilan New Policy dalam meningkatkan produksi serta memastikan kelancaran pasokan bahan pangan dapat menjadi kekuatan besar untuk mengendalikan inflasi. “Pertanian tetap menjadi sektor strategis karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat,” tambahnya.

Statistik terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan pertama 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan, dengan kontribusi sektor pertanian sebesar 1,11 persen. Angka ini menegaskan peran penting pertanian dalam menjaga keseimbangan ekonomi, terutama dengan New Policy yang menekankan keberlanjutan produksi.

Ketahanan Pangan dan Stabilitas Harga

Konsistensi produksi pangan menjadi elemen penting dalam mengurangi tekanan harga yang berpotensi mengganggu daya beli masyarakat. Ninasapti menekankan bahwa kebutuhan pokok seperti beras memiliki dampak signifikan terhadap inflasi. “New Policy yang fokus pada swasembada beras dan pengelolaan pasokan secara terencana akan menjadi benteng efektif terhadap kenaikan harga di pasar global,” jelasnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi April 2026 mencapai 0,13 persen secara bulanan. Meskipun harga pangan sedang naik, penurunan harga bahan-bahan seperti daging ayam ras dan telur ayam ras berkontribusi positif dalam menstabilkan angka inflasi. Kondisi ini menunjukkan bahwa New Policy dalam penanganan ketersediaan pangan domestik masih berjalan efektif.

Strategi New Policy dalam Produksi Beras

Kebijakan swasembada beras yang telah diwujudkan dinilai sebagai bukti keberhasilan New Policy dalam memastikan kebutuhan pokok terpenuhi. Ninasapti menyampaikan bahwa produksi beras yang konsisten tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga berdampak pada stabilitas inflasi. “New Policy ini menegaskan bahwa pertanian harus tetap menjadi prioritas dalam kebijakan pemerintah,” tambahnya.

Dukungan pemerintah dan peran petani dalam menjaga kualitas serta volume produksi beras menjadi bagian dari New Policy yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor. Selain itu, New Policy juga memperkuat kemampuan sektor pertanian dalam menciptakan peluang kerja di kalangan masyarakat pedesaan.

Menyimpan Beras sebagai Benteng Inflasi

Cadangan beras pemerintah yang mencapai lebih dari 5 juta ton menjadi modal penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional, sekaligus mengantisipasi fluktuasi harga global. Ninasapti menyoroti bahwa New Policy harus menyertakan strategi penyimpanan dan distribusi bahan pangan yang terpadu. “New Policy tidak hanya tentang produksi, tetapi juga tentang kebijakan penyimpanan yang siap menghadapi krisis pasokan,” ujarnya.

Konsistensi produksi pangan dan pengelolaan cadangan secara optimal akan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga, terlepas dari tekanan harga dari luar. New Policy harus mengintegrasikan upaya ini agar inflasi 2026 tidak mengalami lonjakan signifikan.

Persiapan Menghadapi Tantangan Global

Dalam konteks global, harga pangan masih cenderung naik karena faktor cuaca, kenaikan biaya produksi, dan dinamika politik. Ninasapti menegaskan bahwa New Policy menjadi kunci untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian tersebut. “New Policy harus berfokus pada peningkatan efisiensi produksi, memastikan keberlanjutan pasokan, dan memperkuat daya tahan pangan,” tambahnya.

Sektor pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan makanan masyarakat akan menjadi perlindungan terhadap kenaikan inflasi. New Policy menjadi acuan utama dalam merancang kebijakan yang bisa menjaga stabilitas ekonomi, terutama pada tahun 2026.

Kebutuhan Ekstra untuk Penguatan New Policy

Ninasapti menggarisbawahi bahwa New Policy harus terus diperkuat dengan inovasi dan kebijakan yang relevan. “Perlu ada langkah-langkah tambahan, seperti perluasan akses teknologi pertanian dan penguatan koperasi petani, untuk