Key Strategy: Wamentan pastikan pemerintah perkuat sektor persusuan nasional
Key Strategy: Wamentan Perkuat Sektor Persusuan Nasional untuk Kesehatan Generasi Muda
Key Strategy – Dalam rangka meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia, Wamentan Sudaryono menegaskan bahwa pemerintah telah menetapkan Key Strategy untuk memperkuat sektor persusuan nasional. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan akses yang lebih merata terhadap susu, khususnya untuk anak-anak, yang menjadi fokus utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah berkomitmen meningkatkan produksi susu dalam negeri, memperbanyak populasi sapi perah, serta mendorong kebiasaan masyarakat mengonsumsi susu secara rutin, terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan gizi yang optimal.
Peningkatan Kapasitas Produksi dan Konsumsi Susu
Kementerian Pertanian, melalui Key Strategy yang dicanangkan, terus berupaya meningkatkan kapasitas sektor persusuan melalui beberapa inisiatif strategis. Sudaryono menjelaskan bahwa peningkatan jumlah sapi perah dan produksi susu lokal adalah komponen utama dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan generasi Indonesia yang sehat, kuat, serta berdaya saing. “Kita sedang memperkuat sektor persusuan nasional dengan meningkatkan populasi sapi perah, produksi susu dalam negeri, dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi susu,” tegasnya.
“Pemenuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak, adalah prioritas Key Strategy untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Susu memiliki peran penting dalam mengembangkan pertumbuhan fisik dan kecerdasan generasi muda,” ujarnya.
Peran Strategis Susu dalam Kesehatan Anak-Anak
Sudaryono mengingatkan bahwa konsumsi susu memberikan dampak jangka panjang pada kualitas manusia sehat. Ia menekankan bahwa susu bukan hanya bahan makanan, tetapi bagian dari kebiasaan hidup yang membantu meningkatkan kualitas gizi masyarakat. “MBG dan gerakan minum susu adalah upaya untuk meningkatkan kualitas gizi, serta mendorong tumbuh kembang generasi muda,” tambahnya.
“Kalau orang ngomong apapun negatif tentang MBG dan susu, saya adalah orang produk dari keduanya. Jadi, pasti saya bela program itu,” tutur Sudaryono.
Sudaryono, yang akrab disapa Mas Dar, menyoroti pengalaman pribadi sebagai anak petani yang merasakan manfaat susu sejak usia dini. Ia mengakui bahwa kebiasaan ini membantu tumbuh kembang anak-anak Indonesia secara signifikan. “Saya merasa manfaat susu sejak usia muda, bahkan saat remaja. Itu membuat saya yakin bahwa budaya minum susu sangat penting untuk kesehatan anak-anak,” katanya.
Gerakan Revolusi Putih dan Target Pemerintah
Sudaryono menyampaikan bahwa gagasan memperkuat konsumsi susu bukanlah hal baru. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah lama memperhatikan isu gizi, bahkan sebelum menjabat sebagai kepala negara. “Gerakan Revolusi Putih, yang dicanangkan saat Pak Prabowo masih memimpin Gerindra, merupakan langkah awal dalam menunjang Key Strategy pemerintah untuk mengembangkan sektor persusuan nasional,” jelasnya.
“Jadi, memperkuat konsumsi susu sudah lama menjadi perhatian Pak Prabowo. Dulu, saat di Gerindra, kita sudah menggagas gerakan ini sebagai bagian dari upaya nasional,” tambah Sudaryono.
Dalam konteks produksi, Sudaryono mengakui tantangan utama saat ini adalah keterbatasan jumlah sapi induk perah. Meski teknologi reproduksi dan ketersediaan bibit telah membaik, ia menegaskan bahwa kenaikan populasi ternak hidup perlu ditingkatkan. “Kita kurang sapi induknya. Meski sperma dan bank sperma sudah banyak, jumlah ternak hidup tetap harus ditingkatkan,” imbuhnya.
Implementasi Key Strategy di Tahun 2026
Dalam peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2026, Sudaryono menegaskan bahwa Key Strategy pemerintah telah dijalankan sebagai bagian dari program nasional. Ia menyoroti bahwa HSN menjadi momentum penting untuk membangkitkan kesadaran masyarakat akan manfaat susu. “Kita ingin meningkatkan dua hal: produksi dan konsumsi susu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa sebagian besar kebutuhan susu Indonesia masih bergantung pada impor, sehingga perlu peningkatan produksi lokal.
“Sekarang ada MBG, tetapi produksi susu kita masih banyak yang impor. Nah, kita ingin tingkatkan dua hal ini sebagai bagian dari Key Strategy,” beber Sudaryono.
Key Strategy ini juga berfokus pada pengembangan infrastruktur dan peningkatan kualitas produk susu. Sudaryono menyebutkan bahwa pemerintah sedang menggandeng berbagai pihak untuk memastikan akses yang lebih mudah dan terjangkau bagi masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil. “Dengan Key Strategy ini, kita harapkan masyarakat lebih mengenal dan mengutamakan susu sebagai sumber nutrisi utama,” pungkasnya.
