Pembahasan Penting: Iran: Serangan dari pangkalan AS di negara tetangga tak dapat diterima

Iran: Serangan dari pangkalan AS di negara tetangga tak dapat diterima

Erbil, 11 Maret – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa semua serangan yang diluncurkan dari pangkalan militer Amerika Serikat di wilayah negara-negara tetangga tidak dapat diterima dalam kondisi apa pun. Pernyataan ini disampaikan saat ia melakukan panggilan telepon dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq, menurut laporan media resmi Iran.

Perkembangan Regional dan Dampak Internasional

Siaran Republik Islam Iran menyebutkan bahwa dalam percakapan tersebut, Pezeshkian dan Haitham bin Tariq membahas situasi geopolitik regional. Kedua pemimpin mengupas dampak global dari operasi militer AS dan Israel terhadap Iran, yang telah menimbulkan reaksi keras dari Teheran.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Setiap serangan yang diluncurkan dari pangkalan militer AS di negara-negara kawasan tidak dapat diterima dalam keadaan apa pun,” tegas Pezeshkian.

Pezeshkian juga menyebutkan bahwa hubungan Iran dengan negara-negara tetangga dinilainya tetap dihargai. Namun, ia menyoroti serangan-serangan yang berasal dari posisi strategis AS. Contohnya, serangan sebelumnya di Kota Minab, Iran selatan, yang menewaskan 168 siswa dalam sebuah sekolah.

Menurut laporan, aksi militer Iran hanya menargetkan lokasi yang secara langsung terlibat dalam serangan terhadap negaranya. “Penyelidikan menyeluruh pasti akan dilakukan terkait insiden ini,” ujarnya. Pezeshkian juga menanggapi laporan mengenai kejadian di Pelabuhan Salalah, yang disebut sebagai bagian dari respons militer terhadap serangan asing.

Sebelumnya, pada 28 Februari, AS dan Israel meluncurkan serangan gabungan terhadap Iran, menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Serangan itu juga mengorbankan lebih dari 150 siswa. Sebagai balasan, Teheran melakukan serangan drone dan rudal ke Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.