Latest Program: Ekonom: Daya saing jadi kunci pertumbuhan ekspor produk sawit RI

khrisna-edit-1784006648-68cabdf184

Latest Program: Daya Saing Kunci Pertumbuhan Ekspor Sawit Indonesia

Latest Program – Para ekonom Indonesia menegaskan bahwa peningkatan daya saing industri melalui inovasi menjadi faktor penentu bagi pertumbuhan ekspor produk turunan kelapa sawit. Dalam Latest Program terbaru, para ahli menyoroti bahwa di tengah semakin ketatnya standar perdagangan internasional serta perubahan dinamika pasar global, kemampuan Indonesia untuk mempertahankan posisi sebagai eksportir utama sangat bergantung pada transformasi struktural industri ini.

Isnawati Hidayah, peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios), menjelaskan bahwa Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan status sebagai produsen sawit terbesar di dunia. Dalam Latest Program ini, ia menekankan bahwa daya saing ekspor akan semakin ditentukan oleh kemampuan memenuhi standar keberlanjutan, ketertelusuran, dan emisi rendah.

“Indonesia perlu bergerak dari ekspor produk antara menuju produk hilir yang memiliki nilai tambah dan kandungan teknologi lebih tinggi sehingga tidak terus bergantung pada fluktuasi harga komoditas primer,” kata Isnawati kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Menurut Isnawati, hilirisasi tetap menjadi strategi penting, namun implementasinya harus berorientasi pada peningkatan kualitas, bukan sekadar menambah jenis produk ekspor. Ia menilai pemerintah perlu mendorong investasi pada industri hilir berbasis inovasi dan teknologi sehingga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Latest Program ini juga menyoroti pentingnya sinergi antara kebijakan pemerintah dan pelaku industri.

Selain itu, petani kecil juga perlu menjadi bagian dari rantai nilai agar manfaat hilirisasi tidak hanya dinikmati industri besar. Isnawati menambahkan peningkatan produktivitas sebaiknya dilakukan melalui optimalisasi lahan yang sudah ada, bukan membuka kawasan baru yang berpotensi mendorong deforestasi dan menurunkan daya saing produk sawit Indonesia dalam jangka panjang.

Strategi Diferensiasi Produk dan Ekosistem

Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menekankan bahwa strategi peningkatan daya saing juga perlu dilakukan melalui diferensiasi produk sehingga Indonesia tidak hanya mengekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Dalam Latest Program, ia menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pengembangan industri sawit nasional.

“Paling penting adalah membangun ekosistemnya,” ujar Esther.

Menurutnya, produk sawit perlu dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah tinggi, seperti biodiesel, sabun, deterjen, pelumas, kosmetik, dan produk oleokimia. Pelaku usaha juga perlu memastikan produk memenuhi standar mutu internasional serta regulasi di setiap negara tujuan ekspor. Latest Program ini menekankan bahwa diversifikasi produk merupakan kunci untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tunggal.

Pasar seperti Eropa memiliki persyaratan keberlanjutan yang lebih ketat, sedangkan negara lain seperti Pakistan dan India masih menjadi pasar potensial bagi produk sawit Indonesia. Selain penguatan produk, Esther menilai promosi melalui platform business-to-business (B2B) dan partisipasi dalam pameran dagang internasional perlu terus diperluas untuk membantu pelaku usaha memperoleh pembeli baru sekaligus memperluas jaringan distribusi produk turunan sawit Indonesia di pasar global.

Peran Pemerintah dan Data Ekspor

Sejalan dengan upaya tersebut, pemerintah terus memperkuat tata kelola industri sawit melalui penerapan standar keberlanjutan. Pemerintah juga memperluas penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) hingga sektor hilir sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia di pasar global. Latest Program mencatat bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap tantangan perdagangan internasional yang semakin kompleks.

Kementerian Perindustrian mencatat ekspor minyak sawit beserta produk turunannya pada 2025 mencapai sekitar 44,65 miliar dolar AS, sedangkan nilai impor sekitar 1,42 miliar dolar AS, sehingga menghasilkan surplus perdagangan sekitar 43,23 miliar dolar AS atau sekitar Rp782,46 triliun. Industri sawit juga masih menjadi salah satu penyumbang devisa ekspor terbesar nasional. Data ini memperkuat argumen bahwa daya saing menjadi kunci pertumbuhan ekspor produk sawit Indonesia.

Sebelumnya, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung juga melepas ekspor 14 ribu ton palm kernel expeller (PKE) atau bungkil inti sawit ke Selandia Baru senilai sekitar Rp20 miliar setelah komoditas tersebut memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari serta standar negara tujuan. Keberhasilan tersebut menunjukkan pentingnya sertifikasi dan pengawasan dalam menjaga akses pasar.

Dalam proses ekspor, Karantina melakukan pemeriksaan, pengawasan, dan penerbitan Phytosanitary Certificate sebagai jaminan bahwa komoditas memenuhi standar internasional dan persyaratan negara tujuan. Pemerintah juga tengah mengintegrasikan layanan karantina dengan instansi terkait guna memangkas hambatan ekspor dan meningkatkan efisiensi logistik perdagangan. Latest Program ini menggarisbawahi bahwa efisiensi logistik merupakan komponen penting dalam strategi daya saing nasional.

Sementara itu, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai peningkatan daya saing ekspor juga memerlukan dukungan sistem perdagangan yang lebih efisien. Menurut dia, dalam jangka pendek pemerintah perlu memperkuat fasilitasi ekspor dan memberikan insentif terhadap pengolahan produk samping sawit. Latest Program ini menyimpulkan bahwa integrasi kebijakan dan inovasi teknologi akan menjadi fondasi pertumbuhan berkelanjutan industri sawit Indonesia ke depan.