Key Strategy: Menekraf: Seni pertunjukan Batak berpeluang dorong pertumbuhan ekonomi

khrisna-edit-1783840671-5b7e975680

Key Strategy: Seni Pertunjukan Batak Dorong Ekonomi

Apresiasi Menteri Ekraf terhadap Tona Sian Huta

Key Strategy – Jakarta telah menjadi saksi atas apresiasi tinggi dari Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, terhadap pagelaran opera dan konser musik yang mengusung tema Tona Sian Huta. Pagelaran ini dinilai memiliki peran ganda yang sangat penting, yaitu memperkuat pelestarian warisan budaya Batak sekaligus membuka peluang baru sebagai sumber pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat daerah. Menurut Riefky, negara yang memiliki akar budaya yang kuat dan kokoh memiliki potensi besar untuk mendorong perkembangan industri kreatif, sektor pariwisata, serta usaha mikro kecil dan menengah yang tersebar di berbagai daerah. Ketika semua elemen ini dikelola secara inovatif dan berkelanjutan, maka akan menjadi penopang utama bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Key Strategy ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Menteri Ekraf menekankan bahwa budaya merupakan salah satu kekuatan terbesar yang dimiliki Indonesia. Ketika pengelolaan budaya dilakukan dengan baik, dikemas secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi muda, maka budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, dan sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta pada hari Minggu. Key Strategy yang diterapkan menunjukkan bagaimana pendekatan holistik dapat menghasilkan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

Ekosistem Kreatif dari Tanah Batak

Riefky menjelaskan bahwa pertunjukan Tona Sian Huta merupakan kekuatan besar Indonesia yang tidak sekadar melekat pada identitas berbangsa, tetapi juga membuka peluang menarik bagi pengembangan ekonomi kreatif dari Tanah Batak. Dengan memadukan seni pertunjukan, musik, budaya, dan kreativitas dalam satu panggung, acara ini menciptakan sebuah ekosistem kreatif yang terdiri dari talenta, kekayaan intelektual, dan peluang ekonomi. Ekosistem ini mampu menciptakan lapangan pekerjaan serta menggerakkan ekonomi daerah secara signifikan. Key Strategy yang diterapkan dalam pagelaran ini telah terbukti efektif dalam menarik perhatian berbagai pemangku kepentingan.

Sejalan dengan arah Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026-2045 yang baru saja disahkan, penyelenggaraan acara yang melibatkan seniman, musisi, pegiat kriya, kuliner, event organizer, hingga berbagai sektor pendukung ini menunjukkan bahwa kolaborasi dapat mengubah potensi budaya menjadi nilai tambah yang nyata. Implementasi Key Strategy ini sejalan dengan visi jangka panjang pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif nasional. Melalui pendekatan yang terintegrasi, berbagai sektor dapat saling mendukung dan memperkuat satu sama lain.

“Semoga kegiatan ini terus menjadi ruang kolaborasi, memperkuat pelestarian budaya, serta membuka lebih banyak peluang bagi pengembangan subsektor seni pertunjukan, musik, fesyen, kuliner, UMKM, pariwisata, dan ekonomi kreatif Indonesia. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengembangkan ekonomi kreatif dengan kolaborasi yang kuat,” kata Menteri Ekraf.

Detail Pagelaran dan Partisipan

Tona Sian Huta diselenggarakan di Gedung Jetun Silangit, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dan memiliki makna sebagai pesan dari Kampung Halaman. Acara ini menampilkan berbagai penampilan menarik, termasuk stand up comedian Joel Purba, seni pertunjukan dari 27 talenta opera, serta 30 musisi lokal hingga nasional seperti Maria Simorangkir, Victor Hutabarat, Style Voice, dan masih banyak lagi. Harmoni kearifan lokal juga tampak dari kehadiran 50 UMKM yang menyajikan produk-produk kreatif dari ragam subsektor, seperti kuliner, kriya, dan fesyen. Key Strategy yang diterapkan dalam pagelaran ini telah berhasil menarik partisipasi dari berbagai kalangan masyarakat.

“Opera Batak adalah aset budaya yang sangat berharga. Melalui Tona Sian Huta, kami ingin menghidupkan kembali warisan budaya Batak sekaligus menjadikan budaya, ekonomi kreatif, pariwisata, dan UMKM sebagai satu ekosistem yang mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat Danau Toba,” ujar Lamhot Sinaga sebagai Wakil Ketua Komisi VII DPR RI sekaligus inisiator acara ini.

Pagelaran ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga demonstrasi nyata bagaimana kolaborasi antar berbagai sektor dapat menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, dari seniman hingga pelaku UMKM, Tona Sian Huta menunjukkan bahwa budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan untuk kesejahteraan masyarakat. Key Strategy yang telah terbukti efektif ini diharapkan dapat menjadi model bagi pengembangan ekonomi kreatif di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Melalui pendekatan yang terukur dan berkelanjutan, potensi ekonomi kreatif Indonesia dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh masyarakat.