Satgas bencana gempa Sigi ajukan 210 unit huntara ke BNPB

SATGAS-BENCANA-GEMPA-SIGI-AJUKAN-210-UNIT-HUNTARA-KE-BNPB

Satgas Bencana Gempa Sigi Ajukan Permohonan 210 Unit Hunian Sementara

Satgas bencana gempa Sigi ajukan 210 unit – Dalam upaya mempercepat pemulihan pasca-gempa bumi yang mengguncang Sigi, Satuan Tugas (Satgas) darurat penanganan bencana lokal telah mengambil langkah awal dengan mengajukan permohonan pembangunan 210 unit hunian sementara kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, yang juga menjabat sebagai Komandan Satgas. Dalam wawancara yang dilakukan di Sigi pada Minggu (21/6), ia menjelaskan bahwa jumlah tersebut merupakan bagian dari rencana pemulihan yang terstruktur, yang bertujuan untuk menampung warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.

Kebocoran informasi tentang pemberian hunian sementara (huntara) ini terungkap setelah pihak Satgas mengirimkan laporan resmi ke BNPB. Sebagai badan nasional yang bertugas memberikan bantuan darurat dan pengelolaan bencana, BNPB akan mengevaluasi permohonan tersebut untuk menentukan alokasi dana dan sumber daya yang dibutuhkan. Pemilihan angka 210 unit dianggap cukup strategis, karena sesuai dengan jumlah warga yang terdampak dan tingkat keparahan kerusakan infrastruktur di daerah tersebut.

Bencana gempa yang terjadi pada 22 Juni lalu mengakibatkan kerusakan parah di sejumlah wilayah Sigi, termasuk rusak berat pada bangunan hunian. Menurut data yang dirilis oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sigi, lebih dari seribu keluarga terkena dampak langsung, dengan sekitar 300 unit rumah rusak berat dan sejumlah besar bangunan lainnya mengalami kerusakan sedang. Untuk mengatasi situasi ini, Satgas berupaya memprioritaskan kebutuhan warga yang paling kritis, yaitu mereka yang tidak memiliki tempat tinggal layak.

Dalam pernyataannya, Samuel Yansen Pongi menjelaskan bahwa keputusan untuk mengajukan 210 unit hunian sementara berdasarkan evaluasi kelayakan yang telah dilakukan. “Permohonan ini telah dipersiapkan secara matang, dengan melibatkan tim ahli dan mengacu pada kebutuhan warga yang terparah,” katanya. Ia juga menekankan bahwa hunian sementara akan dibangun di lokasi yang mudah diakses, sehingga memudahkan warga dalam memulai proses pemulihan kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia menjamin bahwa setiap unit akan memenuhi standar keamanan dan kenyamanan dasar.

“Kami ingin memberikan perlindungan terbaik bagi warga yang terdampak. 210 unit ini adalah bagian dari langkah kita untuk menjamin ketersediaan tempat tinggal sementara hingga bangunan permanen dapat dibangun,” ujar Samuel Yansen Pongi.

BNPB, sebagai instansi yang bertugas menyediakan bantuan darurat, akan berkoordinasi erat dengan Satgas Sigi untuk memastikan pengerjaan hunian sementara berjalan lancar. Proses pencairan dana dan pengadaan material akan dimulai setelah persetujuan resmi dari pihak BNPB. Direktur Operasional BNPB, Dwikorowo Tirta Yudha, mengungkapkan bahwa mereka telah menerima laporan dari Sigi dan akan segera melakukan penilaian lanjutan.

Pemulihan pasca-bencana di Sigi membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk masyarakat setempat, organisasi lokal, dan lembaga nasional. Dalam beberapa hari terakhir, tim penanggulangan bencana telah melakukan survey ke berbagai desa dan kelurahan untuk mengetahui kebutuhan warga secara detail. Hasil survey tersebut menjadi dasar bagi keputusan pembangunan hunian sementara, yang diperkirakan akan memakan waktu sekitar satu bulan untuk selesai.

Berbagai upaya mempercepat proses, Satgas Sigi juga berupaya mengajukan permohonan tambahan kepada pemerintah pusat dan daerah. Dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan di Kementerian PUPR, beberapa rencana peningkatan bantuan darurat telah diterima. Selain hunian sementara, BNPB juga berencana memberikan bantuan logistik, seperti makanan, air minum, dan perlengkapan kesehatan, kepada warga yang terdampak.

Situasi kritis yang terjadi di Sigi memaksa pemerintah setempat dan lembaga penanggulangan bencana bekerja sama tanpa henti. Kepala BPBD Sigi, Muhammad Fachrul Rizieq, mengatakan bahwa kerja sama antara pihak-pihak terkait menjadi kunci keberhasilan pemulihan. “Kita tidak bisa melakukan ini sendirian. Keterlibatan BNPB sangat penting untuk mempercepat proses penyaluran bantuan,” tambahnya.

Kebocoran dari gempa yang berkekuatan 6,2 skala Richter tersebut tidak hanya mengguncang Sigi, tetapi juga berdampak pada wilayah sekitarnya. Meski demikian, fokus utama Satgas Sigi adalah memastikan kesejahteraan warga segera dipulihkan. Dengan adanya 210 unit hunian sementara, diharapkan dapat memberikan kestabilan sementara bagi sekitar 500 keluarga yang terdampak. Ini adalah langkah awal dalam jangka panjang untuk membangun kembali rumah-rumah warga yang rusak.

Sebagai upaya memperkuat kerja sama, Satgas Sigi juga memperkenalkan mekanisme pengawasan yang lebih ketat untuk memastikan setiap tahap penyaluran bantuan berjalan transparan. Sosialisasi akan dilakukan secara bertahap kepada warga, sehingga mereka memahami prosedur pengajuan dan penerimaan hunian sementara. Selain itu, pihak Satgas berencana melakukan evaluasi mingguan untuk menyesuaikan kebutuhan warga sesuai dengan perkembangan situasi di lapangan.

Kehadiran Satgas darurat menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menghadapi bencana alam. Dengan dukungan BNPB, diharapkan kebutuhan warga akan terpenuhi secara cepat dan efisien. Samual Yansen Pongi menegaskan bahwa permohonan hunian sementara ini adalah bagian dari upaya menyelamatkan korban bencana dan mencegah penyebaran penyakit serta kesulitan lainnya. “Ini bukan hanya bantuan sementara, tetapi juga langkah strategis untuk membangun kembali masyarakat Sigi yang kuat dan tangguh,” pungkasnya.