Key Strategy: Warga Pelalawan minta perawatan sekat kanal lahan gambut berkelanjutan

20260618_135102

Warga Pelalawan Ingatkan Pentingnya Perawatan Sekat Kanal Lahan Gambut secara Berkelanjutan

Key Strategy – Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau (ANTARA) – Seorang warga Desa Mendol, yang memiliki lahan pertanian di kawasan gambut, Erwan (49) menyambut baik upaya Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam membangun sekat kanal. Menurutnya, proyek tersebut menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, Erwan menekankan bahwa pemerintah perlu memastikan proyek ini dikelola secara berkelanjutan, bukan hanya sekadar pembangunan fisik tanpa perawatan rutin.

Pembangunan Sekat Kanal: Harapan dan Tanggung Jawab

Erwan mengungkapkan bahwa keberadaan sekat kanal serta pintu air sangat berpengaruh pada kelembapan tanah gambut yang rentan terbakar. Ia berharap sistem ini tidak hanya selesai pada tahap awal, tetapi terus diperbaiki dan dikelola dengan baik. “Kami sangat berterima kasih atas pembangunan kanal ini, karena menunjukkan perhatian pemerintah terhadap kita. Namun, jangan hanya seremonial saja. Ini perlu dilakukan terus-menerus, mungkin diperpanjang hingga Teluk Beringin agar fungsi pengendaliannya lebih optimal,” jelas Erwan saat ditemui di kediamannya, Kamis.

“Kelembapan lahan gambut menjadi faktor kunci dalam mencegah kebakaran. Dengan sekat kanal yang terus berfungsi, kita bisa mengurangi risiko api merambat ke wilayah rawan. Pembangunan ini membantu, tetapi perawatan juga tak kalah penting agar sistem tidak jadi tidak efektif setelah beberapa bulan,” kata Erwan.

Erwan menyebutkan bahwa selama ini, masyarakat sering kali membantu memperbaiki sarana pengendalian air secara sukarela, bahkan sebelum proyek selesai. “Kalau sekat kanal ini dibangun dengan serius, kami bersedia terus mendukungnya. Hanya saja, kami perlu kepastian bahwa pembangunan akan terus dilakukan, bukan sekadar selesai dalam waktu singkat,” tegasnya.

Penjelasan dari Pihak KLH/BPLH

Deputi Bidang Tata Lingkungan dan Sumber Daya Alam Berkelanjutan KLH/BPLH, Sigit Reliantoro, menjelaskan bahwa sekat kanal di kawasan gambut dirancang untuk meminimalkan dampak kebakaran. “Lahan gambut mudah terbakar karena struktur tanahnya kering dan rawan terhadap api. Di sini, gambutnya dalam dan tinggi, sehingga desain sekat dilakukan berdasarkan topografi. Lokasi pengekatannya ditentukan sesuai kemiringan tanah dan kebutuhan aliran air,” terang Sigit.

“Sistem ini bekerja dengan cara menahan air di wilayah yang rentan terbakar, sehingga kelembapan tetap terjaga. Jika debit air turun, sekat tersebut bisa diaktifkan kembali untuk memastikan lahan tidak kering. Proyek ini juga mempertimbangkan kondisi darurat, seperti kebakaran yang membutuhkan intervensi cepat,” ujar Sigit.

Sigit menambahkan bahwa sekat kanal memiliki peran ganda. Selain mencegah kebakaran, sistem ini juga bisa digunakan saat terjadi keadaan darurat. “Misalnya, saat hutan atau lahan mulai terbakar, kita bisa mengalirkan air dari sungai besar ke wilayah yang terkena. Dengan pemasangan pompa, air bisa dibasahi secara efektif untuk memadamkan api,” jelasnya.

Kisah Petani yang Terpuruk oleh Karhutla

Erwan juga berbagi pengalaman pribadinya tentang dampak karhutla terhadap kehidupan. Ia mengatakan bahwa kebunnya telah beberapa kali musnah akibat kebakaran. “Saya pernah menanam kebun empat kali, tetapi tiga kali berantakan karena hangus oleh api. Tahun ini, akhirnya berhasil, karena ada sekat kanal yang mencegah api merambat ke sini,” katanya.

“Kebun saya bisa bertahan karena sekat kanal ini. Tanpa sistem ini, kebun mungkin akan habis lagi. Kami berharap pemerintah bisa terus mengembangkan jaringan kanal, agar setiap musim kemarau, lahan gambut tetap terjaga kelembapannya,” lanjut Erwan.

Dalam beberapa tahun terakhir, karhutla seringkali merusak produktivitas pertanian di wilayah ini. Erwan menyebutkan bahwa masyarakat sudah kelelahan karena sering kali harus bergotong royong untuk memperbaiki sarana pengendalian air. “Kami biasanya menghabiskan dana sendiri untuk memperbaiki saluran air saat proyek belum selesai. Ini butuh kerja sama yang konsisten dari pihak pemerintah,” tegasnya.

Strategi Berkelanjutan dalam Pengelolaan Lahan Gambut

Menurut Sigit, penanganan karhutla di kawasan gambut memerlukan pendekatan yang lebih holistik. “Selain pembangunan fisik, perawatan jangka panjang sangat penting. Jika hanya dibangun sekali, tanpa perawatan, sistem bisa rusak dan tidak berfungsi lagi. Jadi, perlu ada mekanisme pengelolaan yang terus berlanjut,” paparnya.

Sigit menegaskan bahwa desain sekat kanal diimbangi dengan penempatan petugas penjaga. “Dengan adanya petugas yang rutin mengawasi, kita bisa menangani keadaan darurat lebih cepat. Ini juga memastikan sistem tidak hanya menjadi karya sementara, tetapi bisa bertahan lama,” jelasnya.

“Kami ingin proyek ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar memberikan manfaat jangka panjang. Selain mencegah kebakaran, sistem ini bisa membantu dalam pengelolaan air untuk pertanian dan lingkungan,” kata Sigit.

Erwan menyetujui rencana penambahan jaringan kanal ke area Teluk Beringin. “Kalau bisa diperpanjang hingga sana, efektivitas sistem pengendalian api akan lebih baik. Wilayah Teluk Beringin juga sering terkena api, jadi perlu ada jaringan yang memperkuat,” ujarnya.

Kemitraan Antara Pemerintah dan Masyarakat

Pembangunan sekat kanal tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat. Erwan menekankan pentingnya kolaborasi antara pihak pemerintah dan warga setempat. “Kami siap membantu jika proyek ini dilakukan secara serius. Bukan hanya untuk satu musim, tetapi berkelanjutan. Jika kelembapan lahan terjaga, kita bisa mengurangi kerugian akibat karhutla,” tambahnya.

“Masyarakat harus tetap berperan dalam menjaga keberlanjutan proyek ini. Jika hanya pemerintah yang bert