Topics Covered: BI-Rate naik di RDG Mingguan sebab pelemahan rupiah lewati proyeksi

WhatsApp-Image-2026-06-09-at-16.09.48

BI-Rate Naik di RDG Mingguan Karena Depresiasi Rupiah Berada di Luar Prediksi

Topics Covered – Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan, Selasa, di Gedung DPR RI Jakarta. Langkah ini diambil sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah yang lebih besar dari proyeksi awal. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa keputusan kenaikan BI-Rate merupakan bagian dari kebijakan lanjutan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

“Dalam berbagai evaluasi, hari ini kita melihat, lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu. Dan karenanya judulnya (siaran pers) adalah langkah-langkah kebijakan lanjutan untuk penguatan stabilitas nilai tukar rupiah,” kata Perry dalam wawancara cegat.

Keputusan ini juga mencerminkan upaya BI untuk mengantisipasi tekanan inflasi dan mengimbangi kecenderungan ekonomi yang mungkin tidak stabil. Selain menaikkan BI-Rate, BI melanjutkan serangkaian langkah kebijakan untuk menjaga keseimbangan pasar keuangan. Penyesuaian suku bunga menjadi 5,50 persen menunjukkan intensitas BI dalam menjaga daya tarik mata uang rupiah di tengah dinamika global yang berubah.

Kebijakan BI di RDG Bulanan Mei

Sebelumnya, pada RDG Bulanan pada 19-20 Mei 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps. Kenaikan ini merupakan langkah pertama setelah BI mempertahankan tingkat suku bunga 4,75 persen sejak September 2025. Pada periode tersebut, BI juga melakukan penyesuaian kebijakan untuk menghadapi tekanan inflasi yang menguat.

Sepanjang tahun 2025, BI telah memangkas bunga acuan lima kali, total penurunan mencapai 125 bps. Strategi ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi beban biaya bagi sektor produsen. Namun, terkait dengan melemahnya rupiah di luar proyeksi, BI kembali mengambil langkah kenaikan suku bunga untuk menciptakan kekuatan beli di pasar.

Langkah Kebijakan Tambahan untuk Stabilisasi Rupiah

Di samping penyesuaian BI-Rate, BI meluncurkan empat langkah kebijakan tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pertama, BI meningkatkan struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor 6, 9, dan 12 bulan. Tujuan utamanya adalah meningkatkan imbal hasil dari instrumen investasi portofolio asing, yang selama ini menjadi faktor kunci dalam menarik aliran dana ke pasar Indonesia.

Kedua, BI memberikan insentif berupa penurunan tingkat swap lindung nilai (hedging swap) sebesar 10 persen bagi investor asing. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi beban biaya yang selama ini ditanggung investor, sekaligus meningkatkan daya tarik investasi ke dalam negeri. Perry Warjiyo menyatakan, insentif ini bisa mendorong aliran dana asing yang lebih signifikan, terutama dalam kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Ketiga, BI membuka kembali window lelang instrumen repurchase agreement (repo) untuk tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan. Langkah ini dilakukan guna memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, terutama di tengah tekanan kelonggaran likuiditas yang diharapkan. Dengan adanya lelang repo, BI bisa menjaga ketersediaan dana tunai dan mencegah kemungkinan penurunan drastis nilai tukar rupiah.

Keempat, BI meningkatkan intensitas operasi moneter baik untuk rupiah maupun valuta asing. Ini termasuk penyesuaian kebijakan likuiditas dan pasar modal untuk memperkuat stabilitas nilai tukar. Perry menjelaskan bahwa BI terus memantau dinamika ekonomi secara real-time, sehingga kebijakan moneter bisa diadaptasi sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kurs Rupiah dan Perkembangan di 2026

Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs rupiah terhadap dolar AS telah melemah sekitar 7,76 persen (point to point/ptp) sejak awal tahun. Dari Rp16.834 per dolar AS pada 9 Januari 2026, nilai tukar rupiah mencapai Rp18.141 per dolar AS pada 9 Juni 2026. Angka ini menunjukkan tekanan yang menguat terhadap rupiah, terutama karena kenaikan suku bunga di negara-negara maju yang memengaruhi aliran dana ke Asia Tenggara.

Keputusan kenaikan BI-Rate dalam RDG Mingguan juga sejalan dengan kondisi pasar yang berubah. Perry menekankan bahwa BI tetap memantau secara dinamis keadaan ekonomi, termasuk pertumbuhan produksi, inflasi, dan kebijakan moneter global. “Dengan pelemahan rupiah yang melebihi proyeksi, kita perlu mengambil langkah-langkah lebih lanjut agar stabilitas nilai tukar tetap terjaga,” ujarnya.

Penyesuaian Kebijakan dalam Konteks Ekonomi Global

Penyesuaian BI-Rate dalam RDG Mingguan ini juga mencerminkan dampak dari perubahan kebijakan moneter di luar negeri. Kenaikan suku bunga di Amerika Serikat dan Eropa memengaruhi kondisi pasar keuangan internasional, termasuk arus dana ke negara berkembang. Perry menjelaskan bahwa BI perlu seimbangkan antara tekanan inflasi dan stabilitas nilai tukar, terutama dalam masa pemulihan ekonomi setelah pandemi.

Langkah kenaikan suku bunga juga terkait dengan kebutuhan pengendalian inflasi yang terus meningkat. Dengan suku bunga acuan yang lebih tinggi, BI berharap bisa mendorong penurunan permintaan di sektor konsumsi dan investasi, sehingga mengurangi tekanan inflasi. Namun, BI tetap memantau apakah penyesuaian ini akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor manufaktur dan pertanian.

Dalam kesimpulan, keputusan kenaikan BI-Rate yang diambil dalam RDG Mingguan menunjukkan kepekaan BI terhadap perubahan dinamika pasar. Perry menegaskan bahwa kebijakan ini telah dipersiapkan dengan matang, berdasarkan evaluasi terhadap kondisi perekonomian nasional dan internasional. “Kita terus berusaha menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi,” kata Perry.

Untuk mengantisipasi tekanan di masa depan, BI berencana melaksanakan RDG Bulanan pada 17-18 Juni 2026. Dalam rapat tersebut, BI akan mengevaluasi kembali kondisi pasar dan menyesuaikan kebijakan moneter jika diperlukan. Langkah-langkah yang telah diambil di RDG Mingguan dan Bulanan ini menjadi bagian dari upaya BI untuk menjaga keseimbangan ekonomi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Analisis dan Konsensus Internal BI

Perry menambahkan bahwa keputusan kenaikan BI-Rate mencerminkan konsensus internal Dewan Gubernur tentang kebutuhan pengendalian inflasi. Meski ada tekanan pada sektor produksi, BI tetap fokus pada stabilitas makroekonomi. “Kenaikan suku bunga bukan hanya untuk mengatasi pelemahan rupiah, tetapi juga untuk memperkuat kemampuan perekonomian dalam menghadapi tekanan global,” kata Perry.

BI juga menjel