Survei: Separuh warga AS tak lagi percaya akan “American Dream”

CjkinzN000022_20251107_CBMFN0A001a

Survei: Separuh Warga AS Tak Lagi Percaya akan “American Dream”

Survei – Washington – Sebuah survei yang dilakukan oleh The Associated Press dan NORC Center for Public Affairs Research menyoroti penurunan kepercayaan warga Amerika terhadap keistimewaan negara mereka serta kemampuan mewujudkan konsep yang disebut “American Dream”. Hasil jajak pendapat yang diperkenalkan pada Senin lalu mengungkapkan bahwa sekitar 30 persen responden menganggap adanya negara-negara yang lebih unggul dibandingkan Amerika Serikat. Angka ini meningkat 19 persen dibandingkan dengan survei yang dilakukan pada Juni 2016, di mana sebelumnya hanya 11 persen responden yang menyatakan hal serupa.

Kebanggaan Nasional dan Kebutuhan Hidup

Kemudian, sebanyak 44 persen warga Amerika menganggap AS sebagai salah satu negara hebat di dunia, sama seperti beberapa negara lainnya. Namun, ini jauh lebih rendah dari survei satu dekade lalu, yang menunjukkan bahwa 55 persen responden mengakui keunggulan negara ini. Survei terbaru ini menunjukkan perubahan sikap terhadap nilai-nilai nasional yang semakin signifikan, terutama dalam konteks krisis ekonomi dan ketimpangan sosial yang terus berlanjut.

Kebuntuan “American Dream” dalam Kehidupan Nyata

Konsep “American Dream” yang menggambarkan bahwa usaha keras akan mengantarkan seseorang ke kesuksesan, kini tidak lagi dianggap relevan oleh separuh responden. Jumlah warga Amerika yang yakin prinsip ini masih berlaku hanya mencapai 34 persen, sedangkan 15 persen mengklaim bahwa prinsip tersebut memang tidak pernah berhasil. Hasil ini mengindikasikan bahwa harapan akan kesuksesan melalui kerja keras mulai terkikis oleh realitas hidup yang semakin berat.

Perbedaan Generasi dalam Keyakinan

Dalam survei yang sama, terdapat perbedaan signifikan antara kelompok usia. Hanya 22 persen responden berusia di bawah 30 tahun yang meyakini “American Dream” masih bisa dicapai, dibandingkan dengan 46 persen warga Amerika berusia di atas 60 tahun. Perbedaan ini menunjukkan bahwa generasi muda lebih skeptis terhadap harapan tersebut, mungkin karena mereka menghadapi tantangan ekonomi yang lebih kompleks seperti inflasi, biaya pendidikan yang mahal, dan persaingan kerja yang ketat.

Faktor-Faktor yang Memicu Keraguan

Responden dalam survei ini sering mengaitkan kehilangan keyakinan terhadap “American Dream” dengan berbagai faktor ekonomi. Tingginya biaya hidup, kenaikan harga perumahan, dan kesulitan dalam membangun karier menjadi alasan utama yang disebutkan. Hal ini menggarisbawahi bahwa warga AS mulai menyadari bahwa kesuksesan tidak selalu terjamin melalui usaha semata, tetapi juga tergantung pada lingkungan ekonomi dan kesempatan yang ada.

Perspektif Global dalam Pandangan Warga AS

Selain itu, survei ini juga menyoroti perubahan perspektif global warga AS. Dalam survei sebelumnya, sebagian besar responden masih percaya bahwa Amerika Serikat menawarkan peluang yang lebih baik dibandingkan negara lain. Namun, sekarang, angka tersebut berkurang, menggambarkan bahwa warga AS semakin terbuka terhadap kemungkinan negara-negara lain memiliki sistem yang lebih baik dalam mewujudkan harapan-harapan mereka. Perspektif ini mungkin dipengaruhi oleh kondisi sosial dan politik dalam negeri yang tidak stabil.

Metode Penelitian dan Akurasi Data

Survei tersebut dilakukan secara daring dan melalui telepon pada 16–20 April, dengan melibatkan 2.596 orang dewasa sebagai sampel. Margin of error survei ini sebesar 2,6 persen, yang menunjukkan tingkat akurasi data dalam rentang ±2,6 persen. Metode penelitian yang digunakan dianggap representatif karena mencakup berbagai lapisan masyarakat, baik dari kota maupun daerah pedesaan, serta berbagai kelompok demografis.

Konteks Sejarah dan Makna “American Dream”

Konsep “American Dream” telah menjadi bagian penting dari identitas Amerika sejak akhir abad ke-19. Dulu, itu dianggap sebagai jaminan bahwa setiap warga negara, tanpa memandang latar belakang, bisa mencapai kesejahteraan melalui usaha dan kerja keras. Namun, era baru yang ditandai oleh kenaikan pengangguran, ketimpangan pendapatan, dan krisis lingkungan menantang prinsip ini. Survei terbaru mengisyaratkan bahwa warga AS kini merasa bahwa keistimewaan yang pernah mereka yakini semakin sulit diakses.

Peluang dan Tantangan di Masa Depan

Analisis survei ini juga menunjukkan bahwa meskipun ada keraguan, masih ada sejumlah warga Amerika yang optimis. Sebagai contoh, 34 persen responden percaya bahwa “American Dream” pernah tercapai, sementara 15 persen menganggapnya tidak pernah berhasil. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan akan kemungkinan kesuksesan masih hidup, meskipun dalam skala yang lebih terbatas. Masih ada peluang bagi individu yang mampu mengatasi tantangan ekonomi dan sosial yang ada.

Implikasi untuk Kebijakan Publik

Hasil survei ini memberikan gambaran bahwa warga AS mulai menilai ulang nilai-nilai yang dipegang negara mereka. Perubahan ini bisa menjadi pertimbangan untuk kebijakan publik yang lebih berfokus pada keadilan sosial dan aksesibilitas kesempatan. Apakah pemerintah akan berupaya memperkuat prinsip “American Dream” atau mengakui bahwa keistimewaan negara ini perlu diperbaiki, adalah pertanyaan yang penting untuk dijawab.

Di sisi lain, survei ini juga menjadi cerminan tentang aspirasi masyarakat. Meskipun keraguan mengenai keistimewaan AS meningkat, kepercayaan pada negara tetap berada di tingkat yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa warga Amerika tetap memiliki harapan, meskipun mereka mulai menyadari bahwa kemungkinan untuk mencapai tujuan tersebut semakin terbatas. Kepercayaan pada “American Dream” bisa menjadi pendorong bagi perubahan, terutama jika kebijakan pemerintah mampu mengatasi faktor-faktor yang menghambatnya.