Main Agenda: Iperindo harap dukungan BBM subsidi perkuat industri galangan

80265E57-3E42-4C7F-B46A-97BBB1004AAB

Iperindo Harap Dukungan BBM Subsidi Perkuat Industri Galangan

Main Agenda – Jakarta – Organisasi Industri Galangan Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) mengungkapkan kebutuhan akan bantuan bahan bakar minyak (BBM) subsidi dalam upaya memperkuat daya saing sektor maritim nasional. Pemimpin organisasi ini, Anita Puji Utami, menekankan pentingnya dukungan tersebut untuk menjaga kelangsungan industri galangan kapal, yang dianggap sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi di bidang laut.

Mengutip pernyataannya dalam keterangan di Jakarta, Senin, Anita menyebutkan bahwa naiknya harga bahan bakar industri secara signifikan membebani operasional galangan kapal. “Agar industri ini tetap stabil, diperlukan bantuan BBM subsidi untuk mengurangi beban biaya produksi,” jelasnya. Dalam situasi saat ini, industri galangan kapal menghadapi tantangan yang semakin berat, terutama karena kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah selama beberapa bulan terakhir.

“Kenaikan kurs dolar membuat biaya impor naik, yang secara langsung memengaruhi harga bahan baku seperti plat baja, cat kapal, dan material lainnya,” kata Anita. Ia menambahkan, tekanan ini diperparah oleh lonjakan harga energi global serta fluktuasi harga komoditas yang memperburuk kondisi operasional industri.

Dari data yang dikumpulkan Iperindo, harga solar B40 meningkat hingga 89,19 persen dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, LPG 12 kilogram naik sebesar 16,16 persen, dan LPG 50 kilogram mengalami kenaikan sekitar 26,51 persen. Hal ini menyebabkan biaya produksi galangan kapal meningkat drastis, yang berdampak pada kelangsungan usaha perusahaan dalam sektor ini.

Menurut Anita, keadaan tersebut semakin rumit karena dampak konflik geopolitik di Timur Tengah. “Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat mengganggu jalur perdagangan internasional, khususnya di Selat Hormuz,” ujarnya. Kondisi ini memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan bahan baku yang dibutuhkan industri galangan kapal, termasuk zinc anode dan aluminium anode, yang masing-masing naik 12,87 persen dan 13,61 persen.

Kenaikan biaya juga terjadi pada oli mesin dan peralatan galangan, yang harganya naik antara 15 hingga 40 persen. Selain itu, harga bahan plastik meningkat sekitar 30 hingga 50 persen, menambah beban operasional perusahaan. Anita menjelaskan bahwa sektor galangan kapal nasional masih sangat bergantung pada pasokan impor, sekitar 45 persen kebutuhan material dan peralatannya berasal dari luar negeri.

“Ketergantungan tinggi pada komponen impor membuat industri rentan terhadap perubahan nilai tukar mata uang asing,” katanya. Ia menyoroti bahwa beberapa kontrak pekerjaan ditandatangani saat kurs dolar masih rendah, tetapi saat pelaksanaan, pelaku usaha harus membayar dengan kurs yang jauh lebih tinggi, sehingga biaya produksi mengalami pembengkakan.

Menyikapi situasi ini, Anita berharap pemerintah dapat segera memberikan subsidi BBM khusus untuk kebutuhan industri galangan kapal. “Langkah ini diperlukan agar industri dapat tetap beroperasi secara efisien dan kompetitif,” katanya. Tidak hanya bahan bakar, Ia juga menyoroti perlunya bantuan pada komponen pendukung lainnya, seperti zinc anode dan aluminium anode, yang kenaikan harganya sangat signifikan.

Peningkatan biaya operasional menyebabkan galangan kapal terpaksa menyesuaikan tarif reparasi kapal. Dalam pernyataannya, Anita mengatakan kenaikan tarif ini diperkirakan mencapai sekitar 20 persen, sebagai upaya untuk mengimbangi peningkatan biaya produksi yang terus terjadi. Meski demikian, Ia menegaskan bahwa ini adalah langkah sementara, karena pengadaan material impor tetap menjadi penghalang utama.

Iperindo juga menyebutkan bahwa sektor maritim nasional perlu dukungan pemerintah untuk tetap menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia. “Dengan daya saing yang menurun, risiko ekspor kapal ke luar negeri bisa meningkat,” ujar Anita. Dalam konteks ini, subsidi BBM dianggap sebagai salah satu cara untuk mendorong produksi lokal dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Di sisi lain, pelaku industri galangan kapal sedang melakukan diskusi dengan pemilik kapal (owner) mengenai kemungkinan kenaikan biaya produksi pada proyek pembangunan kapal baru. Meski sejumlah proyek masih berjalan, Iperindo menilai bahwa perubahan harga bahan baku memaksa industri untuk menyesuaikan anggaran, termasuk berpikir ulang tentang komitmen investasi.

Menurut Anita, peran BBM subsidi tidak hanya untuk biaya bahan bakar, tetapi juga sebagai penggerak utama untuk menjaga konsistensi produksi kapal. “Dengan pasokan BBM subsidi yang stabil, industri dapat menekan inflasi biaya dan tetap mempertahankan kualitas layanan kepada pelanggan,” katanya. Ia menambahkan bahwa perusahaan galangan kapal harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan kebutuhan bahan baku secara dinamis, agar tetap bisa beradaptasi dengan tekanan ekonomi.

Ketua Umum Iperindo ini menekankan bahwa keberlanjutan industri galangan kapal sangat berkaitan dengan stabilitas mata uang asing. “Dolar yang naik membuat biaya impor menjadi lebih mahal, yang secara langsung memengaruhi margin keuntungan perusahaan,” ujarnya. Ia berharap pemerintah tidak hanya memberikan subsidi BBM, tetapi juga berperan aktif dalam memastikan pasokan material lokal yang lebih murah dan konsisten.

Dengan dukungan tersebut, Iperindo optimis industri galangan kapal bisa bertahan dan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Industri ini tidak hanya mendukung perekonomian, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam perdagangan internasional,” pungkas Anita. Dalam jangka panjang, kebijakan subsidi BBM diharapkan bisa menjadi faktor penentu dalam memperkuat daya tahan sektor maritim di tengah ketidakpastian ekonomi global.