Latest Program: BRMP Papua Barat kembangkan benih jagung untuk perluasan tanam 200 ha

13031

BRMP Papua Barat kembangkan benih jagung untuk perluasan tanam 200 ha

Latest Program – Manokwari – Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Papua Barat sedang mengerjakan proyek pengembangan benih jagung di Kabupaten Manokwari. Proyek ini diharapkan mampu menghasilkan sekitar enam ton benih untuk mendukung pengembangan penanaman jagung di lahan seluas 200 hektare. Kepala BRMP Papua Barat, Abdul Syukur Syarif, menyatakan bahwa pengembangan benih secara mandiri menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan serta mengurangi ketergantungan pasokan dari daerah lain.

Inspeksi ke lokasi penangkaran benih jagung dilakukan oleh Syukur bersama Wakil Kepala Polda Papua Barat Brigjen Pol Sulastiana dan tim BRMP. Mereka mengunjungi Kampung Macuan untuk meninjau kemajuan penanaman dan memastikan fasilitas pendukung pascapanen, seperti gudang pengering jagung, terbangu dengan baik. Syukur menjelaskan bahwa proyek ini bertujuan memberikan sumber benih yang cukup untuk kebutuhan pengembangan luas lahan pertanian di daerah tersebut.

“Lahan percontohan seluas satu hektare ini diharapkan menghasilkan enam ton benih jagung yang bisa digunakan untuk menanam di 200 hektare lahan,” ujarnya.

Peninjauan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memastikan keberlanjutan program peningkatan produktivitas pertanian. Fasilitas gudang pengering, yang merupakan bagian dari rencana pendukung, akan membantu menjaga kualitas benih jagung selama proses pengeringan. Syukur menekankan bahwa penggunaan mesin ini sangat penting untuk mengoptimalkan hasil panen serta mempercepat siklus produksi.

Dalam rangka menghadapi hama serangan ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda), tim lapangan BRMP Papua Barat juga mengevaluasi kondisi tanaman di lahan percontohan. Meski ada kerusakan akibat serangan hama, pertumbuhan tanaman secara keseluruhan dinilai masih positif. Hal ini menunjukkan bahwa metode penanaman yang diterapkan berhasil menahan dampak negatif dari hama tersebut.

Pendekatan Modernisasi Pertanian di Daerah

Syukur menjelaskan bahwa pengembangan benih jagung di Kabupaten Manokwari merupakan bagian dari upaya modernisasi pertanian. Kebutuhan benih yang besar di masa depan membutuhkan pendekatan yang lebih terukur dan berkelanjutan. Dengan menghasilkan benih lokal, ketahanan pangan daerah bisa ditingkatkan, serta mengurangi risiko ketergantungan pada pasokan eksternal.

“Mesin dryer sangat membantu menjaga kualitas benih,” tambah Syukur.

Di samping itu, BRMP Papua Barat juga memperkenalkan metode tanam sisip (single replanting). Teknik ini melibatkan penanaman kembali pada tahap awal siklus produksi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan. Syukur menjelaskan bahwa metode ini bisa mempercepat proses panen dan memastikan hasil yang optimal.

Dalam kunjungan bersama, Sulastiana menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga teknis dan kelompok tani. Ia menjelaskan bahwa setiap rencana pengembangan harus didasarkan pada data yang akurat, termasuk luas lahan potensial, jumlah kelompok tani, serta kebutuhan benih per distrik. “Dengan pendekatan ini, program jagung bisa diterapkan secara terukur dan berkelanjutan,” katanya.

Metode tanam sisip, menurut Sulastiana, bukan hanya meningkatkan hasil panen tetapi juga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan lahan. Teknik ini diperkirakan bisa menambah produktivitas pertanian daerah hingga 200 hektare. “Manokwari diharapkan menjadi pusat pengembangan benih dan produksi jagung di Papua Barat,” ujar Sulastiana.

Penjelasan Teknik Pemupukan

Sebagai bagian dari penerapan modernisasi pertanian, BRMP Papua Barat juga memberikan pelatihan kepada petani tentang teknik pemupukan. Mereka menjelaskan penggunaan campuran pupuk urea dan phonska sesuai kebutuhan tanaman. Teknik ini bertujuan memperbaiki nutrisi tanah dan meningkatkan pertumbuhan jagung secara signifikan.

Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mendorong keterlibatan langsung petani dalam pengembangan pertanian. Dengan memahami teknik pemupukan yang tepat, mereka dapat mengoptimalkan hasil panen dan mengurangi risiko kegagalan. Selain itu, program ini juga menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya pertanian secara berkelanjutan.

BRMP Papua Barat menjelaskan bahwa penggunaan pupuk campuran akan mengurangi dampak kekeringan dan ketidakseimbangan nutrisi tanah. Teknik ini bisa diaplikasikan di seluruh distrik, terutama di daerah dengan akses air yang terbatas. “Teknik pemupukan ini sangat efektif dalam meningkatkan produktivitas,” kata Syukur.

Dengan semua upaya yang dijalankan, BRMP Papua Barat berharap mampu mencapai target luas tanam jagung sebesar 200 hektare dalam waktu dekat. Keterlibatan petani, dukungan lembaga teknis, dan penggunaan alat modern seperti dryer dan teknik pemupukan menjadi kunci keberhasilan program ini. Syukur berharap proyek pengembangan benih jagung bisa menjadi model terbaik untuk daerah lain di Indonesia.

Program pengembangan ini juga berdampak positif pada ekonomi lokal. Dengan menanam jagung secara luas, ketersediaan bahan pangan bisa terjamin, sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Syukur menyatakan bahwa kemandirian benih dan produktivitas pertanian adalah dua aspek utama yang harus dipertahankan untuk memastikan keberlanjutan pertanian di Papua Barat.

Menurut Sulastiana, peningkatan produktivitas pertanian juga memerlukan peran aktif polisi dalam menjaga keamanan dan ketertiban selama proses penanaman. “Kami akan terus mendukung upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujarnya. Sinergi antara BRMP, polisi, dan kelompok tani diharapkan bisa mempercepat penyelesaian program ini.

Manokwari menjadi salah satu daerah yang secara aktif mengembangkan pertanian modern. Dengan memperkenalkan benih jagung lokal dan fasilitas pendukung, seperti dryer, daerah ini berusaha