Historic Moment: Joe Taslim ungkap alasan jatuh cinta dengan peran di “The Furious”

IMG_9921.JPG

Joe Taslim Ungkap Alasan Jatuh Cinta dengan Peran di “The Furious”

Historic Moment – Dalam acara konferensi pers di Jakarta pada Jumat (5/6), aktor Joe Taslim menjelaskan motivasi di balik keputusannya memerankan tokoh Navin dalam film thriller aksi bela diri Hong Kong berjudul “The Furious.” Film ini akan diputar di bioskop Indonesia sejak 17 Juni 2026. Joe menyatakan bahwa karakter Navin memiliki dimensi yang berbeda dari peran aksi sebelumnya, karena tokoh ini tidak hanya bergerak di dunia fisik, tetapi juga membawa elemen emosional yang unik.

Sosok Navin yang Lebih Manusia

Menurut Joe, peran Navin terasa lebih manusiawi dibandingkan karakter-karakter aksi yang sering ia gencarkan. “Di sebagian besar film yang aku bintangi, tokoh itu biasanya diatur menjadi pemenang yang sangat dominan, seperti dalam film ‘The Night Comes for Us’ atau ‘Mortal Kombat,’ di mana ia digambarkan sebagai orang yang mampu mengalahkan ratusan lawan,” ujar Joe. Ia menjelaskan bahwa dalam “The Furious,” Navin tidak ditulis sebagai pendekar yang selalu menang, melainkan sebagai seseorang yang bertahan hidup dan berjuang untuk menyelamatkan keluarganya.

“Karena itu, aku merasa ini adalah pengalaman baru,” kata Joe. “Dalam film sebelumnya, kemampuan bela diri tokoh biasanya dijadikan alat untuk memperkuat kekuatan dan kemenangan mereka. Tapi di sini, bela diri menjadi sarana untuk bertahan hidup, bukan untuk menaklukkan dunia.”

Joe menekankan bahwa pendekatan penulis dan sutradara untuk karakter Navin lebih fokus pada realisme. Meski memiliki keterampilan bela diri seperti judo, Navin dianggap sebagai jurnalis yang jauh dari citra sang pahlawan. “Ia bukan seorang ahli perang atau mantan anggota pasukan khusus, tapi seorang suami yang ingin menemukan istrinya yang hilang,” imbuhnya.

Perjuangan yang Menyentuh

Kisah Navin terjadi ketika istrinya, yang juga seorang jurnalis, menghilang selama melakukan peliputan investigasi. Joe menjelaskan bahwa konflik internal tokoh ini menjadi faktor penting dalam mewarnai narasi film. “Menghadapi pertanyaan setiap hari, seperti ‘Apakah istrinya masih hidup atau sudah mati,’ membuat Navin semakin kompleks dan menyentuh,” katanya. Proses jatuh bangun dalam setiap adegan pertarungan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi Joe.

Dalam film, Navin bukan hanya bertarung untuk kehidupan, tetapi juga membawa emosi dan kepedulian terhadap anak-anak yang terancam. “Kemampuan bela dirinya adalah alat, bukan tujuan. Ia berjuang untuk keluarganya, dan itulah yang membuatnya menarik,” kata Joe. Ia menggambarkan Navin sebagai sosok yang memiliki sifat mulia, bukan hanya kekuatan fisik.

“Daripada berusaha terlihat ‘badass’ atau terlalu kuat, karakter ini lebih emosional dan memiliki sisi humanis yang luar biasa,” ujar Joe. “Bertarung sambil menyelamatkan anak-anak adalah tujuan yang memenuhi makna hidup, dan itu yang membuat aku jatuh cinta pada peran ini.”

Collaboration dengan Yayan Ruhian

“The Furious” juga menjadi kesempatan bagi Joe untuk bekerja sama dengan aktor Yayan Ruhian, yang dikenal karena perannya dalam film aksi Hong Kong. Joe mengungkapkan bahwa kehadiran Yayan memberi dinamika baru dalam proses pemeranannya. “Kita punya dua tokoh yang berbeda, tapi saling melengkapi. Yayan adalah pemenang, sementara aku adalah ‘survivor’ yang menempuh perjalanan emosional,” katanya.

Dalam cerita, Navin menghadapi tantangan untuk menemukan istrinya yang hilang, sementara Yayan Ruhian memerankan Wang Wei, seorang pedagang sederhana yang hidupnya hancur setelah putrinya diculik oleh sindikat perdagangan manusia. Keduanya kemudian bekerja sama dalam misi penyelamatan yang berisiko tinggi. “Kisah mereka berdua adalah tentang perjuangan untuk keluarga, dan itu yang membuat film ini punya makna mendalam,” kata Joe.

Nilai Emosional dalam Aksi Brutal

Joe menekankan bahwa “The Furious” bukan hanya film aksi yang sarat pertarungan, tetapi juga menyajikan sisi emosional yang kuat. “Dalam film sebelumnya, kemenangan selalu terlihat jelas, tapi di sini, setiap adegan bertarung mengandung proses penuh emosi,” katanya. Ia menjelaskan bahwa Navin mencoba menyeimbangkan antara kekuatan fisik dan kelemahan manusiawi, sehingga karakternya terasa lebih realistis dan relevan.

“Navin adalah sosok yang bisa kita lihat sebagai manusia biasa, tetapi dengan keinginan luar biasa untuk bertahan hidup dan menyelamatkan orang yang dicintainya,” imbuh Joe. “Itu yang membuat aku merasa peran ini sangat istimewa.”

Joe juga membandingkan film “The Furious” dengan karya-karyanya sebelumnya. “Dalam film seperti ‘Mortal Kombat’ atau ‘The Night Comes for Us,’ tokoh selalu dihadapkan pada kondisi yang menantang, tapi jawabannya jelas. Di sini, jawaban tidak bisa diprediksi, dan itu yang membuatnya menarik,” katanya. Ia menambahkan bahwa konflik dalam film ini lebih tentang hubungan manusia, bukan hanya pertarungan fisik.

Konflik Batin sebagai Titik Puncak

Selain pertarungan, Joe menyebut konflik batin Navin sebagai bagian penting dalam alur cerita. “Ia memiliki keraguan, kecemasan, dan keinginan untuk menemukan kebenaran. Itu semua terwujud dalam setiap adegan, dan aku merasa itu yang membuat karakter ini hidup,” ujar aktor berusia 34 tahun ini. Ia menjelaskan bahwa Navin bukan hanya bertarung untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa harapan bagi orang lain.

Menurut Joe, “The Furious” memperlihatkan bagaimana aksi bisa menjadi sarana untuk menyampaikan emosi. “Ini bukan sekadar film pertarungan, tapi juga kisah cinta, kehilangan, dan semangat yang luar biasa. Aku merasa itu yang membuat film ini spesial,” katanya. Ia menambahkan bahwa film ini mungkin akan menantang penggemar aksi karena menggabungkan kekerasan dengan elemen sentimental yang kuat.

Sebagai penutup, Joe menyatakan bahwa peran Navin adalah momen bersejarah dalam kariernya. “Karakter ini menggabungkan segala sesuatu yang aku sukai: keterampilan bela diri, emosi, dan tujuan yang mulia. Aku merasa jatuh cinta pada karakter ini, dan itu yang membuat aku ingin menyelesaikannya dengan maksimal,” pungkasnya. Film ini, yang hingga Jumat, 5 Juni 2026, memperoleh rating 100 persen dari Rotten Tomatoes, diharapkan akan memberi pengalaman baru bagi penonton.