Meeting Results: Indonesia nilai pertemuan Xi-Trump bawa suasana positif dalam APEC

Indonesia Nilai Pertemuan Xi-Trump Bawa Suasana Positif dalam APEC

Meeting Results – Beijing, ANTARA – Pertemuan antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menurut Menteri Luar Negeri Indonesia Santo Darmosumarto menjadi bagian dari momentum yang memperkuat diskusi di Forum Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2026. Menurut Santo, hasil dari pertemuan bilateral tersebut memberikan dasar yang lebih baik bagi pembicaraan antarnegara anggota APEC, terutama dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk kepentingan bersama.

Hasil Pertemuan Membawa Perubahan dalam Diskusi APEC

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI Santo Darmosumarto menjelaskan bahwa pertemuan antara Xi dan Trump di Beijing, Mei 2026, menciptakan suasana yang lebih positif di tengah perdebatan di APEC. “Hasil pertemuan antara dua pemimpin besar itu berdampak signifikan pada dinamika diskusi, karena menunjukkan komitmen untuk menjaga hubungan ekonomi yang stabil dan konstruktif,” ujarnya kepada ANTARA setelah mengikuti pertemuan “Senior Officials’ Meeting” (SOM) di Shanghai, Mei 2026.

“Kehadiran hasil pembicaraan pada tingkat tertinggi ini memberi harapan bahwa pembahasan di forum APEC dapat berjalan dengan lebih lancar dan bermakna,” tambah Santo.

Dalam pertemuan bilateral, Xi dan Trump sepakat mengembangkan kerja sama ekonomi yang lebih baik. Hal ini menjadi momentum penting, terutama bagi anggota APEC seperti Indonesia yang berharap kerja sama antar-negara dapat ditingkatkan. Santo menegaskan bahwa suasana di SOM APEC terasa lebih kondusif karena ada kebersamaan dalam menghadapi isu-isu global, seperti keterbukaan perdagangan, inovasi, dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Pertemuan Bilateral: Sinyal Konsensus Global

Pertemuan Xi dan Trump di Beijing, 14-15 Mei 2026, dianggap sebagai tanda bahwa dua negara besar tersebut tetap berupaya mencapai kesepakatan meski memiliki pandangan yang berbeda dalam beberapa isu. “Pertemuan ini menunjukkan bahwa ada ruang untuk dialog dan konsensus, meskipun ada perbedaan pendapat di tingkat lain,” kata Santo.

“Kesepakatan ini bukan hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga memberi harapan bahwa APEC dapat memperoleh suasana yang lebih positif dan kooperatif,” papar Santo.

Indonesia, sebagai anggota APEC, berharap pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk menghadapi tantangan ekonomi global. Santo menyoroti bahwa delegasi dari AS dan Tiongkok secara aktif mengapresiasi hasil pertemuan yang dinilai konstruktif. “Kehadiran hasil pembicaraan tingkat tertinggi ini memberi dampak yang positif, bahkan mengubah dinamika dalam diskusi APEC,” jelasnya.

APEC: Forum yang Dinamis dan Bertujuan Konsisten

Santo Darmosumarto juga menekankan bahwa APEC memiliki sifat dinamis, karena setiap tahun mengadakan pertemuan untuk mengeksplorasi inisiatif baru. Namun, ia menegaskan bahwa inisiatif-inisiatif tersebut tidak sepenuhnya baru, melainkan terbentuk dari pengembangan kebijakan yang telah diterapkan di masa keketuaan negara-negara sebelumnya.

“Yang diharapkan adalah hasil yang diusulkan China bisa menjadi tindak lanjut dari inisiatif yang sudah berhasil dibangun selama masa keketuaan Korea Selatan, Peru, dan Amerika Serikat,” tuturnya.

Dalam konteks ini, Tiongkok memberikan penekanan khusus pada isu-isu yang dianggap penting bagi semua anggota, seperti kebukaan pasar, inovasi teknologi, dan peningkatan konektivitas ekonomi. Santo menegaskan bahwa Indonesia tetap menjunjung prinsip memperkuat sistem perdagangan multilateral, tetapi juga mempertimbangkan kepentingan nasional.

Pertimbangan Keseimbangan dalam Kebijakan Ekonomi

Santo menjelaskan bahwa sebagai negara berkembang, Indonesia berusaha menjaga keseimbangan antara liberalisasi ekonomi dan perlindungan sektor-sektor yang rentan. “Kita tidak ingin terlalu terbuka dalam semua sektor, tetapi tetap menjaga keberlanjutan industri nasional dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh,” katanya.

“Dengan pendekatan ini, Indonesia mencoba menyesuaikan kebutuhan global dengan aspirasi nasional, sehingga pembangunan ekonomi dapat berlangsung secara bertahap dan terukur,” ujar Santo.

Indonesia juga menyatakan dukungan terhadap inisiatif Tiongkok dalam menghadapi isu-isu seperti perubahan iklim dan ketimpangan ekonomi. Santo menilai, kebijakan Tiongkok dalam memperkuat kerja sama ekonomi dan meningkatkan keterbukaan menjadi bahan yang sangat relevan untuk diskusi di APEC. “Kita mengapresiasi upaya Tiongkok dalam menciptakan kesamaan tujuan, meskipun masih ada perbedaan pendapat di beberapa sektor,” jelasnya.

APEC: Forum yang Berdiri Sejak 1989

APEC adalah forum kerja sama ekonomi yang didirikan pada tahun 1989 dan terdiri dari 21 anggota. Di antaranya adalah Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, China, Hong Kong-China, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Filipina, Peru, Papua Nugini, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam. Forum ini berfungsi sebagai platform untuk menyelesaikan masalah bersama, terutama dalam memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah Asia-Pasifik.

Dalam keanggotaan ini, Santo menyebut bahwa Tiongkok, sebagai salah satu anggota paling aktif, memiliki peran penting dalam mengarahkan agenda APEC. Namun, ia juga menyoroti bahwa keanggotaan APEC tidak hanya bergantung pada Tiongkok, melainkan juga pada keseimbangan antara negara-negara besar dan kecil. “APEC berdiri untuk mewakili kepentingan semua anggota, baik yang berpangkalan di kawasan Asia maupun Pasifik,” jelas Santo.

Kehadiran negara-negara seperti Korea Selatan dan Peru, menurut Santo, memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan kerja sama ekonomi. “Kita berharap bahwa inisiatif yang diusulkan Tiongkok bisa menjadi kelanjutan dari pencapaian di masa keketuaan negara-negara sebelumnya, sehingga hasil diskusi di APEC bisa lebih berkelanjutan,” papar Santo.

Indonesia: Pemegang Prinsip yang Bertahan

Menurut Santo, Indonesia tetap berpegang pada prinsip kebukaan perdagangan sebagai bentuk dukungan terhadap sistem multilateral. Namun, ia juga menekankan bahwa kebukaan ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan dengan pertimbangan kepentingan nasional. “Kita ingin memastikan bahwa sektor-sektor vital dalam perekonomian nasional tetap dipertahankan, sementara juga membuka pasar untuk meningkatkan daya saing,” jelas Santo.

“Dengan pendekatan ini, Indonesia bisa menjaga kestabilan ekonomi sekaligus mengikuti dinamika global,” katanya.

Dalam konteks APEC 2026, Santo mengatakan bahwa Indonesia berharap pertemuan antara Xi dan Trump menjadi pengingat bahwa kepentingan bersama masih mungkin dicapai meski ada perbedaan pendapat. “Kita percaya bahwa APEC bisa menjadi wadah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, meskipun setiap negara memiliki prioritas yang berbeda,” papar Santo.

Selama ini, Santo mengakui bahwa ada perbedaan pandangan di antara anggota APEC. Misalnya, Tiongkok lebih mengedepankan kebijakan tarif dagang, sementara Indonesia tetap menjunjung prinsip sistem perdagangan bebas. “Namun, dengan hasil pertemuan Xi dan Trump, kita melihat adanya kecenderungan untuk menyesuaikan pendekatan, sehingga APEC bisa memperkuat kebijakan yang lebih harmonis,” ujarnya.

Dengan kehadiran suasana yang lebih posit