Meeting Results: Kemarin, istilah “rekayasa” pada program studi hingga Kirab Milangkala
Kemarin, Perubahan Nomenklatur Program Studi Hingga Kirab Milangkala
Meeting Results – Jakarta – Pada hari Jumat (15/5), berbagai peristiwa humaniora mencuri perhatian publik. Kegiatan tersebut menjadi bahan pembahasan di media selama hari ini sebagai ringkasan kejadian menarik yang bisa dibaca kembali. Berita terkait beragam, mulai dari perubahan istilah resmi dalam pendidikan tinggi hingga pelaksanaan Kirab Milangkala yang memicu perdebatan sejarah.
Perubahan Istilah dalam Nomenklatur Program Studi
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan kebijakan baru yang menimbulkan gema. Dalam sebuah keputusan resmi, istilah “rekayasa” digunakan sebagai pengganti “teknik” dalam nama program studi. Keputusan ini diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi dengan Nomor 96/B/KPT/2025, yang menetapkan perubahan nomenklatur tersebut. Menurut pernyataan Kemdiktisaintek, “rekayasa” dianggap sebagai istilah resmi yang sejalan dengan penggunaan “engineering” dalam KBBI.
“Penggunaan istilah rekayasa menunjukkan kesesuaian dengan istilah engineering dalam bahasa Indonesia, yang telah diakui secara resmi,” jelas pejabat Kemdiktisaintek.
Perubahan ini diharapkan memberikan kesan modern dan relevan dalam konteks pendidikan. Meski demikian, sejumlah pihak menganggap pergeseran tersebut perlu disertai penjelasan yang lebih rinci mengenai alasan penggantian.
Evakuasi Pendaki yang Meninggal di Gunung Rinjani
Di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat, petugas Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) berhasil melakukan evakuasi terhadap pendaki Endang Subarna (48), warga Jawa Barat. Pendaki itu dilaporkan meninggal dunia saat menjalani pendakian. Pihak TNGR langsung bergerak ke lokasi untuk memberikan bantuan dan mengangkat korban.
“Setelah informasi diterima, petugas segera menuju lokasi untuk memberikan pertolongan dan melakukan evakuasi,” kata Kepala Balai TNGR NTB, Budy Kurniawan.
Evakuasi ini memakan waktu beberapa jam, dengan tim menghadapi tantangan medan yang cukup berat. Meski kejadian tersebut berlangsung di akhir pekan, respons cepat dari TNGR menunjukkan kesiapan dalam menghadapi situasi darurat di alam terbuka.
Kampung Darurat Zakat untuk Palestina
Kolaborasi antara Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI dan Kitabisa membawa hasil nyata. Sebuah kampung darurat bernama Kampung Cahaya Zakat didirikan di Deir Al-Balah, Gaza, Palestina. Ini dilakukan sebagai bentuk dukungan masyarakat Indonesia kepada rakyat Palestina.
“Komitmen bangsa Indonesia dan Presiden H. Prabowo Subianto terhadap perjuangan rakyat Palestina menjadi dasar dari upaya ini,” ujar Ketua Baznas RI, Sodik Mudjahid.
Kampung darurat ini bertujuan memperbaiki kondisi pendidikan dan kesejahteraan masyarakat setempat. Baznas menegaskan bahwa bantuan tersebut dilakukan dengan partisipasi aktif dari berbagai lembaga di Indonesia, termasuk program donasi daring yang diinisiasi Kitabisa.
Pemulihan Korban Pelecehan Seksual di Ponpes Pati
Kementerian Sosial mengambil peran aktif dalam mendukung korban pelecehan seksual di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Langkah ini mencakup perlindungan, rehabilitasi, serta pemberdayaan korban. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa pemerintah memberikan dukungan penuh bagi korban.
“Kami bersepakat untuk melakukan pemulihan bagi semua korban, serta memikirkan masa depan santri di sana agar tetap bisa melanjutkan pendidikannya,” kata Saifullah Yusuf.
Proses pemulihan ini melibatkan kerja sama dengan pemerintah daerah, dengan harapan meminimalkan dampak psikologis dan sosial dari kejadian tersebut. Pihak KemenSos juga memperhatikan perlunya pengawasan terhadap lingkungan pesantren untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Kritik Legislator Jabar terhadap Kirab Milangkala
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Maulana Yusuf Erwinsyah, memberikan kritik terhadap perayaan Milangkala Tatar Sunda yang digelar Pemprov Jabar. Acara tersebut diadakan di sembilan kabupaten/kota antara 2–18 Mei 2026, namun dinilai tidak selaras dengan sejarah.
“Rangkaian kegiatan hanya bersandar pada tanggal 18 Mei, yang merujuk peristiwa tahun 669 Masehi, tanpa referensi jelas mengenai alasan penambahan durasi hingga 16 hari,” ujar Maulana Yusuf di Bandung.
Maulana mengatakan bahwa perayaan tersebut kurang konsisten dengan konteks sejarah Tatar Sunda. Ia menekankan bahwa Kirab Milangkala dimulai dari Sumedang dan berakhir di Bandung, dengan perjalanan yang terkesan dipaksakan. Kritik ini memicu diskusi mengenai pentingnya akurasi sejarah dalam acara budaya.
Perubahan istilah dalam pendidikan tinggi dan kegiatan Kirab Milangkala menjadi dua contoh bagaimana isu-isu humaniora memengaruhi masyarakat. Sementara itu, evakuasi di Gunung Rinjani dan upaya pemulihan di Pati menunjukkan peran pemerintah dalam menjaga kepentingan rakyat. Dua isu lainnya, yaitu bantuan bagi Palestina dan kontroversi sejarah, menegaskan bahwa berita humaniora tidak hanya tentang budaya, tetapi juga tentang pengaruh sosial dan politik.
