BPS sebut ekonomi Jatim triwulan I-2026 tumbuh 5,96 persen

Ekonomi Jawa Timur Triwulan I-2026 Tumbuh 5,96 Persen

BPS sebut ekonomi Jatim triwulan I 2026 – Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I-2026 mencapai 5,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan dinamika yang positif dalam perekonomian daerah tersebut, meski masih tergantung pada berbagai faktor eksternal dan internal. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim mencapai Rp532,66 triliun dengan basis harga konstan, sedangkan dalam harga berlaku, angka tersebut tercatat sebesar Rp888,44 triliun. Pertumbuhan ini dinilai sebagai indikator penting dalam mengukur kinerja ekonomi Jatim di tengah tantangan global yang terus berubah.

Pendorong Utama Pertumbuhan Ekonomi Jatim

Analisis lapangan usaha menunjukkan bahwa sektor Jasa Lainnya menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur triwulan I-2026, dengan peningkatan sebesar 13,44 persen. Diikuti oleh sektor Penyediaan Akomodasi dan Makanan Minum yang tumbuh 10,53 persen, serta sektor Jasa Perusahaan dan Pengadaan Air dengan masing-masing pertumbuhan 8,13 persen dan 7,87 persen. Perluasan kegiatan ekonomi di bidang jasa, terutama layanan non-fisik seperti pendidikan, kesehatan, dan keuangan, berkontribusi signifikan terhadap angka peningkatan ini.

Di sisi lain, komponen pengeluaran juga memberikan dampak penting. Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) tumbuh hingga 20,33 persen, sementara Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) naik 8,77 persen. Pertumbuhan ekonomi Jatim triwulan I-2026 terutama didukung oleh kebijakan pemerintah daerah dan investasi dalam program pengembangan infrastruktur serta layanan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa peran sektor publik tidak bisa diabaikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi.

Komponen Ekspor dan Impor dalam PDRB Jatim

Secara spasial, struktur perekonomian Pulau Jawa triwulan I-2026 tetap didominasi oleh DKI Jakarta dengan kontribusi sebesar 29,13 persen, diikuti Jawa Timur (25,16 persen), Jawa Barat (22,63 persen), Jawa Tengah (14,50 persen), Banten (7,00 persen), dan DI Yogyakarta (1,57 persen). Dalam konteks komponen pembentukan, ekspor barang dan jasa tumbuh 1,96 persen, sedangkan impor barang dan jasa menurun 3 persen, sehingga berfungsi sebagai faktor pengurang dalam PDRB.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur triwulan I-2026 menunjukkan ketahanan sektor ekonomi lokal di tengah tekanan inflasi dan perubahan pola konsumsi. Namun, angka ini juga menyoroti perluasan keberagaman sumber daya ekonomi, terutama dari sektor jasa dan investasi yang semakin meningkat. BPS Jawa Timur dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa, menyebut bahwa dinamika tersebut bisa menjadi momentum untuk memperkuat struktur perekonomian daerah dan meningkatkan daya saing di tingkat nasional.

Perbandingan dengan triwulan I-2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Jatim triwulan I-2026 sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya, meski tetap berada dalam kisaran yang stabil. Sejumlah faktor seperti peningkatan permintaan domestik, perbaikan kualitas layanan publik, serta kebijakan stimulus pemerintah berperan besar dalam mendorong kinerja ekonomi. Namun, perlu dipantau pula keberlanjutan pertumbuhan tersebut, terutama dalam menghadapi tantangan seperti kenaikan harga bahan bakar dan perubahan permintaan pasar global.

“Kalau membandingkan ekonomi triwulan I 2026 terhadap triwulan I 2025, pertumbuhan mencapai 5,96 persen,” kata Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Timur Nurul Adriana dalam konferensi pers di Surabaya, Selasa. Ia menekankan bahwa perluasan kegiatan ekonomi di berbagai sektor menggarisbawahi keberhasilan kebijakan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.

BPS sebut ekonomi Jatim triwulan I-2026 juga memberikan gambaran tentang dinamika regional. Jawa Timur berada di posisi kedua setelah DKI Jakarta dalam kontribusi terhadap PDRB Pulau Jawa, dengan peningkatan penjualan barang dan jasa yang lebih tinggi dari provinsi lain. Namun, perlu diperhatikan bahwa pertumbuhan ini tidak merata, dengan sektor-sektor tertentu seperti pertanian dan industri dasar menunjukkan pertumbuhan lebih rendah dibandingkan sektor jasa. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi ekonomi Jatim masih terus berlangsung, dengan peningkatan kekuatan dari sektor non-ritual dan inovasi layanan digital.