Key Issue: Warga keluhkan banjir imbas pembangunan pintu air di Cengkareng Jakbar
Warga Keluhkan Banjir Imbas Pembangunan Pintu Air di Cengkareng Jakbar
Genangan Air di RW 06 Cengkareng Barat Berlangsung Tiga Minggu
Key Issue – Jakarta – Penduduk RW 06, Kelurahan Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, tengah mengeluhkan adanya genangan air yang terus-menerus menggenang wilayah mereka akibat proyek pembangunan pintu air yang sedang berlangsung. Masalah ini telah terjadi selama tiga minggu terakhir, dengan tinggi air mencapai 10 hingga 20 sentimeter. Beberapa warga mengungkapkan kekacauan yang terjadi, terutama di sejumlah RT yang terkena dampak langsung. Dalam situasi ini, tingkat kejenuhan dan kekhawatiran warga semakin memuncak, karena kondisi tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari mereka.
Pembangunan pintu air di wilayah tersebut diharapkan mampu mengatasi masalah banjir yang sering terjadi. Namun, rencana itu justru menyebabkan kekacauan tambahan. Sejumlah RT yang sebelumnya bisa mengaliri air ke saluran drainase kini terjebak dalam genangan, memicu keluhan yang berkelanjutan. Warga menyebutkan bahwa genangan air tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi merusak infrastruktur dan kehidupan sehari-hari. Terutama saat hujan deras mengguyur seperti pada Sabtu (1/5), tingkat air meluap lebih parah, memperburuk situasi.
“Makanya protesnya warga, jangan sampai banjir. Kami tidak menghalangi adanya konstruksi atau pekerjaan yang ada, tapi yang penting jangan sampai dampaknya itu kepada warga di sekitar,” kata Suroto, Ketua RW 06, dalam wawancara di Jakarta, Minggu.
Suroto mengungkapkan bahwa warga tetap mendukung proyek pintu air tersebut, karena dianggap sebagai solusi untuk mengurangi risiko banjir di daerah rawan. Namun, ia menekankan bahwa dampak negatif dari konstruksi perlu diperhitungkan dengan matang. Genangan yang terjadi di wilayahnya membuat sejumlah rumah dan jalan tergenang, sehingga berpotensi memicu kekacauan lebih lanjut. “Warga itu hanya minta yang penting airnya surut. Terserah apa yang dilakukan cara bekerjanya, yang penting airnya surut dan tidak menggenang ke warga. Itulah yang kita inginkan,” imbuhnya.
Pihak RW 06 telah berupaya mengadukan keluhan tersebut ke pihak terkait, seperti dinas terkait atau manajer proyek. Tujuan utama mereka adalah mengharapkan adanya langkah-langkah penyelesaian yang segera dilakukan. Meski begitu, Suroto mengatakan bahwa warga masih menunggu respons yang lebih tajam dari pihak pengelola. “Kami sudah menyampaikan masalah ini melalui surat resmi dan rapat dengan pihak terkait, tetapi hingga kini belum ada tindak lanjut yang signifikan,” terangnya.
Dari sisi teknis, proyek pintu air di Cengkareng Barat diharapkan menjadi bagian dari sistem drainase yang lebih baik. Proyek ini selesai dalam waktu 12 bulan, dengan anggaran sekitar Rp50 miliar. Tujuan utama dari pembangunan tersebut adalah mengalirkan air secara efisien ke sungai atau daerah yang lebih luas. Namun, selama proses konstruksi, saluran air di sekitar wilayah RW 06 terbendung, sehingga menyebabkan akumulasi air yang tidak terduga.
Genangan air tersebut tidak hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari warga, tetapi juga mengganggu akses ke tempat umum dan transportasi. Beberapa jalan utama di RW 06 menjadi sulit dilalui, sehingga memaksa warga menggunakan jalur alternatif. Dampaknya, waktu tempuh ke pasar, sekolah, atau tempat kerja meningkat, menciptakan rasa frustrasi yang semakin bertambah. Kondisi ini juga berpotensi memicu peningkatan penyakit seperti demam dan cacingan, karena genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Suroto menegaskan bahwa warga tidak menolak proyek pintu air secara keseluruhan. “Kami percaya bahwa proyek ini penting untuk mengatasi banjir, tapi harus diperhitungkan dampak sementara selama konstruksi,” jelasnya. Ia menyarankan agar pihak proyek melakukan evaluasi terhadap rencana drainase, serta memastikan bahwa saluran air tidak terhambat selama pengerjaan. “Saya yakin jika ada penyesuaian, masalah ini bisa segera diatasi,” tambahnya.
Di sisi lain, manajer proyek menyatakan bahwa pembangunan pintu air sedang berjalan sesuai rencana. Mereka mengklaim bahwa genangan air yang terjadi adalah akibat dari perubahan aliran air sementara. “Kami sedang menunggu proses pembukaan saluran air yang dilakukan secara bertahap, sehingga tidak ada gangguan terhadap lingkungan sekitar,” jelas salah satu staf proyek. Namun, warga masih mengharapkan penyesuaian waktu atau teknik konstruksi untuk mengurangi dampak negatif.
Proyek pembangunan pintu air ini menjadi perhatian publik karena dianggap sebagai upaya krusial untuk mencegah banjir di Jakarta Barat. Namun, konflik antara manfaat jangka panjang dan masalah sementara terus terdengar. Suroto mengungkapkan bahwa warga ingin proyek ini bisa berjalan lancar tanpa mengganggu kehidupan sehari-hari. “Kami hanya berharap proyek ini bisa memberikan manfaat, bukan malah menyebabkan masalah,” pungkasnya.
Sebagai tindak lanjut, pihak RW 06 berencana mengajukan pertemuan khusus dengan dinas terkait untuk mendiskusikan solusi. Suroto menambahkan bahwa warga berharap ada komunikasi yang lebih transparan dari pihak proyek, sehingga mereka bisa memahami alur pengerjaan. “Jika ada kejadian seperti ini, warga akan lebih mudah mengambil keputusan jika diberi informasi yang jelas,” kata dia. Harapan ini menjadi kunci untuk mengurangi ketegangan antara warga dan pihak proyek, serta memastikan proyek berjalan dengan baik.
Banjir di Cengkareng Barat tidak hanya menjadi perhatian warga RW 06, tetapi juga masyarakat sekitar yang merasakan dampaknya. Sejumlah RT yang terkena genangan mengalami kerusakan pada peralatan rumah tangga, serta kehilangan produk pertanian yang tersimpan di bawah tanah. Anak-anak warga juga mengeluhkan kesulitan bermain di sekitar lingkungan karena genangan air yang tak kunjung surut.
Sebagai penutup, Suroto menyampaikan bahwa warga ter
