Meeting Results: Kunjungi China, Fadli Zon jajaki pendirian Rumah Budaya Indonesia
Kunjungi Beijing, Fadli Zon Dorong Pembentukan Rumah Budaya Indonesia
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke Tiongkok untuk membahas pembuatan Rumah Budaya Indonesia di Beijing. Tujuannya adalah memperkuat promosi, edukasi, serta kerja sama budaya antara kedua negara. “Kami datang untuk meninjau lokasi Rumah Budaya Indonesia dan mempersiapkan pameran budaya tahun depan,” jelas Fadli dalam pertemuan di Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) Beijing, Minggu (26/4).
Pertemuan dengan Tokoh dan WNI
Dalam kesempatan itu, Fadli berdiskusi dengan Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia, Djauhari Oratmangun, serta sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan pengajar seni tradisional. Rencana ini bertujuan menggandeng kalangan swasta Tiongkok yang aktif dalam kegiatan budaya. “Kami juga ingin melibatkan perusahaan lokal sebagai jembatan budaya antara Indonesia dan Tiongkok,” tambahnya.
Ekspansi Rumah Budaya di Luar Negeri
Rumah Budaya Indonesia telah dibangun di beberapa negara, seperti Australia, Prancis, Jerman, Jepang, Myanmar, Singapura, Timor Leste, Turki, dan Amerika Serikat. Selama ini, Fadli menyampaikan bahwa Indonesia masih kurang memanfaatkan potensi budaya sebagai alat perekonomian atau industri. “Kini kita ingin mengubah budaya dari sekadar warisan menjadi ‘soft power’ yang berdampak ekonomi,” ujarnya.
Kunjungan ke Shanghai dan Rencana Kolaborasi
Sebelumnya, Fadli mengunjungi Shanghai untuk menghadiri peresmian pusat riset dan kerja sama animasi serta video game bersama Universitas Indonesia. Ia menekankan pentingnya melibatkan pihak swasta dalam mengembangkan ekspor budaya. “Kami berharap tahun depan dapat mengikuti Festival Film Shanghai dan Beijing,” katanya, menyoroti keinginan untuk menampilkan sineas Indonesia di acara besar.
Potensi Budaya Indonesia dan Mega Diversity
Fadli menyoroti kekayaan budaya Indonesia sebagai ‘mega diversity’ dengan jumlah suku sebanyak 1.340 dan bahasa yang beragam, mencapai 718. “Ini menunjukkan Indonesia memiliki kemampuan unik untuk menyampaikan kebudayaan secara luas,” tegasnya. Ia juga menyebut bahwa konstitusi menjamin kebebasan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai budaya, termasuk dalam konteks internasional.
Kebudayaan Tua dan Pendaftaran UNESCO
Menurut Fadli, Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat tua, terbukti dari penemuan lukisan purba di Kepulauan Muna, Sulawesi Tenggara, yang berusia 67.800 tahun. Selain itu, telah terdaftar 16 bentuk budaya Indonesia di UNESCO sejak 2003, antara lain wayang, keris, batik, angklung, dan lainnya. “Budaya ini bukan hanya warisan, tapi juga sektor ekonomi yang berkelanjutan,” paparnya.
Industri Budaya dan Kemitraan Global
Fadli menegaskan bahwa Kementerian Kebudayaan adalah entitas baru yang fokus pada pengembangan budaya secara mandiri. Ia juga menggarisbawahi amanah UUD 1945 tentang penguatan budaya nasional di tengah peradaban global. “Kami ingin memastikan budaya Indonesia menjadi industri yang mampu bersaing, termasuk di Tiongkok,” tambahnya.
“Kami ingin budaya bukan hanya dilestarikan, tetapi dijadikan pilar ekonomi dan kreativitas yang berkelanjutan,” kata Fadli.
