PBB: lebih dari 1.530 orang tewas di Lebanon sejak eskalasi pecah

PBB: Lebih dari 1.530 Orang Tewas di Lebanon Sejak Eskalasi Pecah

Satu bulan setelah konflik di Lebanon memanas, sebuah laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa korban tewas akibat perang mencapai lebih dari 1.530 orang. Angka ini dilaporkan oleh Imran Riza, wakil koordinator khusus PBB yang juga bertindak sebagai koordinator kemanusiaan untuk Lebanon, yang mengutip data dari Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon.

“Ini adalah tragedi sipil yang sangat besar,” ujarnya kepada wartawan melalui tautan video dari kantor pusat PBB.

Korban dan Pelarian

Dalam laporan tersebut, Riza menyebutkan bahwa 130 anak menjadi korban jiwa dan 461 anak lainnya menderita luka. Selain itu, jumlah pengungsi Lebanon telah mencapai titik yang luar biasa, dengan lebih dari 1,1 juta orang atau hampir 20 persen dari total populasi negara tersebut kini mengalami perpindahan.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Dampak pada Sistem Kesehatan

Riza menambahkan bahwa infrastruktur kritis dan layanan publik di Lebanon kini terbebani. Dampaknya terlihat dalam bentuk lebih dari 106 insiden yang dilaporkan, mengakibatkan 57 kematian dan 158 luka-luka di kalangan tenaga kesehatan. Sejumlah 51 pusat layanan kesehatan serta enam rumah sakit harus ditutup, sementara banyak fasilitas lainnya mengalami kerusakan.

“Eskalasi ini harus segera dihentikan,” tegas Riza, sambil mendorong pihak-pihak yang berkonflik untuk menjunjung hukum humaniter internasional dan melindungi warga sipil, infrastruktur sipil, serta personel medis dan kemanusiaan.”

Permohonan Dana Darurat

Seiring dengan kondisi darurat yang terus berlanjut, Riza mengatakan bahwa permintaan dana darurat tiga bulan sebesar 308,3 juta dolar AS (1 dolar AS setara Rp17.009) bagi para korban serangan Israel di Lebanon selatan belum terpenuhi secara signifikan. Hingga kini, hanya sekitar 1/3 dari jumlah tersebut yang telah disalurkan, membuatnya khawatir dengan situasi yang terjadi.