Program Terbaru: Bapanas antisipasi fluktuasi harga pangan saat Idul Adha sejak dini
Bapanas Antisipasi Fluktuasi Harga Pangan Saat Idul Adha Sejak Dini
Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah memulai persiapan untuk mengatur perubahan harga bahan makanan sebelum perayaan Idul Adha 1447 Hijriah. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa lembaga tersebut bergerak lebih awal guna mengendalikan kenaikan biaya pangan, terus menerus dari hasil pengendalian inflasi pada bulan Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
“Bulan Mei mendatang akan menjadi momen Idul Adha. Tuntutan pasar tentu meningkat, sehingga kami mulai mengambil langkah-langkah untuk menstabilkan harga,” ujar Ketut di Jakarta, Selasa.
Ia menegaskan bahwa strategi antisipasi telah siap diterapkan, khususnya untuk mempertahankan kestabilan harga daging kurban. “Semoga kita dapat memastikan pengendalian yang baik, terutama terkait harga daging kurban,” tambahnya.
Dalam upaya pengawasan harga, Bapanas bekerja sama dengan berbagai sektor, termasuk Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan. Tugas ini telah berjalan sejak awal Ramadan lalu. Ketut menjelaskan bahwa pengawasan telah dilakukan di sekitar 74 ribu titik hingga 4 April 2026, serta mengapresiasi peran Polri dan pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.
Berdasarkan data, inflasi pangan (volatile food) pada Maret 2026 mencatatkan angka 1,58 persen secara bulanan, menurun dari 2,50 persen di bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi pangan juga berkurang menjadi 4,24 persen dari 4,64 persen.
Selain mengatur harga, pemerintah memperkuat kesiapan pasokan untuk menghadapi kenaikan permintaan saat Idul Adha serta dampak fenomena El Nino yang diperkirakan memengaruhi wilayah selatan ekuator. Penguatan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) menjadi salah satu strategi utama. Hingga 6 April 2026, stok CPP mencapai 4,4 juta ton untuk beras, 168 ribu ton untuk jagung pakan, 120 ribu kiloliter minyak goreng, 49 ribu ton gula pasir, 8.000 ton daging sapi, 3.000 ton daging kerbau, serta masing-masing 39 ton dan 17 ton untuk daging ayam serta telur ayam.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tekanan inflasi pada periode Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini terkendali. Secara historis, masa tersebut sering memicu kenaikan harga, namun di 2026, lonjakan tidak sebesar tahun sebelumnya. “Di bulan Maret 2026, ada puasa dan Lebaran, sehingga inflasinya tidak setinggi tahun lalu,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.
Menurut Amalia, tren positif terus berlanjut setelah Idul Fitri. Berdasarkan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH), jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga mulai berkurang. Sementara daerah dengan penurunan harga justru meningkat. Rinciannya, jumlah kabupaten/kota dengan kenaikan IPH daging ayam ras turun menjadi 148 dari 237 daerah sebelumnya. Telur ayam ras juga mengalami penurunan dari 256 menjadi 145 daerah. Cabai rawit berkurang dari 200 menjadi 130 kabupaten/kota. Daging sapi menunjukkan perubahan paling signifikan, dengan kenaikan IPH di 80 daerah, turun dari 186 daerah sebelumnya.

