Rencana Khusus: Negara NATO Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal & Tak Jelas

Negara NATO Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Ilegal & Tak Jelas

Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyoroti keberatan terhadap serangan gabungan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap wilayah Iran. Kritik tajam ini dikeluarkan oleh Prancis, yang menyatakan tidak mendukung tindakan militer tersebut karena dianggap melanggar hukum internasional. Tindakan ini dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas, menurut Barrot, dan tidak memiliki tujuan strategis yang terukur.

Analisis Hukum dan Keterbukaan Strategis

Dalam wawancara dengan France 2, Barrot menekankan bahwa serangan yang dilakukan AS dan Israel terhadap Iran mengurangi efektivitas dalam penyelesaian konflik antarnegara. “Serangan oleh pasukan AS dan Israel di Iran tidak dapat diterima karena dilakukan di luar hukum internasional dan tanpa tujuan yang jelas,” ujarnya. Prancis juga menyoroti ketidaktahuan tujuan operasi tersebut, yang disebut sebagai “tindakan sepihak” dan tidak memenuhi standar hukum global.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

“Kami berharap Iran melepaskan diri dari status kekuatan yang mendestabilisasi dan berbahaya,” tambah Barrot.

Menurut Barrot, untuk mencapai perdamaian jangka panjang di Timur Tengah, Iran harus bersedia melakukan perubahan radikal dalam sikap diplomatiknya. Hal ini mencakup komitmen pada kompromi besar dalam perundingan. “Teheran harus siap memberikan konsesi signifikan untuk solusi yang berkelanjutan,” jelasnya.

Dukungan Internasional untuk Jalur Perdagangan

Selain itu, Prancis mulai menggalang kerja sama internasional untuk menjaga keamanan Selat Hormuz. Barrot menyebut sejumlah negara, termasuk Eropa dan wilayah Timur Tengah, telah menunjukkan minat untuk bergabung dalam misi pertahanan global. Inisiatif ini sejalan dengan rencana yang sebelumnya diperkenalkan oleh Presiden Emmanuel Macron.

“Peserta potensial mencakup negara-negara Eropa serta wilayah Timur Tengah,” kata Barrot.

Eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Israel dan AS meluncurkan serangan udara besar bernama “Operasi Epic Fury” pada 28 Februari lalu. Serangan itu melaporkan telah mengorbankan lebih dari 1.200 warga Iran dan melukai sedikitnya 10.000 orang. Sebagai respons, Iran segera melakukan serangan balik dengan drone dan rudal, yang menyasar titik-titik strategis di Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.