Program Terbaru: Purbaya: Harga BBM Subsidi Pasti Naik kalau Lonjakan Harga Minyak Bebani APBN

Purbaya: Harga BBM Subsidi Pasti Naik kalau Lonjakan Harga Minyak Bebani APBN

Kenaikan harga minyak dunia yang terus meningkat memicu pertimbangan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa jika lonjakan harga minyak terus berlanjut hingga membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), langkah penyesuaian harga BBM bisa dipertimbangkan.

Purbaya menegaskan bahwa kenaikan harga BBM bukan rencana utama pemerintah. Sebelum memutuskan, ia menyebutkan akan dilakukan langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi tekanan harga minyak global. “Kalau anggarannya nggak kuat sekali, nggak ada jalan lain, kami berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya, ada kenaikan BBM,” ujarnya dalam taklimat media di Jakarta, Jumat.

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Kebutuhan untuk Mengalihkan Anggaran

Kementerian Keuangan memperkirakan defisit APBN bisa mencapai 3,7 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) jika harga minyak tetap stabil di level 92 dolar AS per barel sepanjang tahun. Untuk mencegah defisit membesar, pemerintah sedang mempertimbangkan opsi penyesuaian kebijakan, termasuk realokasi belanja negara.

Ia menambahkan bahwa belanja yang langsung berdampak pada masyarakat tetap menjadi prioritas. Contohnya, penyesuaian anggaran mungkin terjadi pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi tidak mengganggu inti program, yaitu penyediaan makanan bagi warga. “MBG programnya bagus, tapi kami ingin cegah kalau ada belanja yang tidak terlalu mendukung langsung makanan, misalnya beli motor,” katanya.

Kenaikan Harga Minyak dan Defisit APBN

Harga minyak global kini mengalami lonjakan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak Brent naik 4,93 persen menjadi 85,41 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 8,51 persen menjadi 81,01 dolar AS per barel. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada Januari 2026, yaitu sekitar 64 dolar AS untuk Brent dan 57,87 dolar AS untuk WTI.

Menurut Purbaya, Indonesia pernah menghadapi situasi harga minyak mencapai 150 dolar AS per barel sebelumnya. Saat itu, ekonomi nasional melambat, tetapi tidak runtuh. “Kita dulu pernah melewati keadaan dimana harga minyak sampai 150 dolar AS per barel. Jatuh nggak ekonominya? Agak melambat, tapi nggak jatuh,” jelasnya.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga BBM subsidi saat ini masih stabil, serta pasokan energi nasional dalam kondisi aman, terutama menjelang Idul Fitri.