Strategi Penting: Ini Strategi Iran untuk Menang Perang Lawan AS-Israel

Konflik Baru antara Iran, Israel, dan AS

Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat memasuki fase baru setelah Teheran mengubah pendekatan militer menjadi lebih agresif pasca serangan 12 hari pada Juni 2025. Tindakan ini dilakukan untuk membalas kematian Ayatollah Ali Khamenei akibat operasi gabungan AS-Israel. Garda Revolusi Iran, atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), menyatakan telah melakukan serangan terbesar dalam sejarah militer Republik Islam terhadap basis militer AS dan wilayah pendudukan teroris. Kepala Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menegaskan bahwa negara tersebut akan terus bertahan dan mengklaim jet tempur Iran telah menyerang pangkalan AS di Teluk. Baca: Situasi Terkini Perang AS-Israel VS Iran, Makin Meluas ke Negara Arab

Struktur Kekuatan Militer Iran

Kekuatan militer Iran sering disebut kompleks dan berlapis. Struktur ini mencakup dua angkatan paralel: Artesh (militer reguler) dan IRGC. Keduanya berada langsung di bawah komando pemimpin tertinggi sebagai komandan utama. Artesh fokus pada pertahanan teritorial dan operasi konvensional, sementara IRGC memiliki tugas lebih luas, termasuk memastikan kestabilan politik Iran. IRGC juga mengendalikan senjata drone dan rudal balistik, yang menjadi tulang punggung strategi penangkal Iran terhadap Israel dan AS. Seorang spesialis militer, yang tidak menyebutkan nama, mengatakan, “Strategi militer Iran berasal dari struktur politiknya. Tujuan mereka adalah menjaga integritas wilayah dan menghentikan intervensi asing yang bertujuan menggulingkan pemerintahan.”

Cara Mendaftar untuk Donor Darah pada 22 Juni 2025
Klik pada gambar untuk daftar donor darah 22 juni 2025

Eksploitasi Rudal dan Drone

Mengikuti serangan AS-Israel pada Sabtu, Teheran membalas dengan drone Shahed dan rudal balistik kecepatan tinggi yang menargetkan aset militer AS serta wilayah Israel dan negara-negara Teluk. Kementerian Pertahanan Iran menyebutkan bahwa mereka meluncurkan 137 rudal dan 209 drone ke Uni Emirat Arab, lokasi pangkalan militer AS. Serangan ini menyebabkan kebakaran di sekitar landmark Dubai seperti Palm Jumeirah dan Burj Al Arab. Di Israel, sembilan korban tewas dan lebih dari 20 orang terluka akibat serangan rudal ke Beit Shemesh. Baca: Detik-Detik Drone Iran Hantam Kilang Minyak Saudi Aramco di Arab

Keterlibatan Proxy dan Tekanan Ekonomi

Menurut Penasihat Keamanan Inggris dan mantan instruktur militer, John Phillips, strategi Iran kini berfokus pada kelangsungan rezim, pemulihan kemampuan inti, serta membangun kembali daya gentar melalui eskalasi militer asimetris yang terukur. “Iran mengandalkan ketahanan asimetris, memperkuat ‘kota rudal’, menyebarkan struktur komando, dan menerima kerusakan awal untuk mempertahankan kemampuan serangan balik,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa Iran menggunakan salvo besar rudal, drone, dan dukungan kelompok proxy seperti Hezbollah untuk menghimpit sistem pertahanan Israel dan AS. Phillips juga menyebut ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai bagian dari strategi yang meningkatkan tekanan ekonomi global, dengan sekitar 20-30% pasokan minyak dan gas dunia melewati jalur tersebut. Baca: 21 Update Iran: Trump Sebut Perang 1 Bulan Lebih, Selat Hormuz Tutup

Perubahan Doktrin Militer

Perang 12 hari Juni 2025 memicu perubahan doktrin militer Iran dari defensif menjadi ofensif asimetris. Serangan dimulai saat Israel menyerang fasilitas militer dan nuklir Iran, diikuti oleh AS dengan serangan bunker-buster ke Natanz, Fordow, dan Isfahan. Presiden AS Donald Trump saat itu menyatakan kemampuan nuklir Iran telah dinetralisir. Phillips menilai bahwa Iran kini lebih berani mengambil risiko, tetapi tetap terbatasi oleh kerusakan infrastruktur, sanksi ekonomi, dan ketidakstabilan dalam negeri. Analis mengatakan masih terlalu dini menilai apakah strategi ini berhasil. Meski Iran mampu menyerang secara signifikan, kelemahan infrastruktur nuklir dan rudal, serta penurunan ekonomi, menunjukkan tantangan yang dihadapi.