Dirjen Adwil: Kolaborasi lintas sektor kunci Indonesia eliminasi TBC

Dirjen Adwil Tekankan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Eliminasi TBC Nasional

Menggalangkebaikan.com – Malang menjadi tuan rumah pertemuan strategis yang dihadiri oleh para pemimpin daerah dalam rangka mempercepat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Rapat Koordinasi Fasilitasi Teknis Intervensi Kewilayahan ini diselenggarakan secara bersamaan dengan Rakorpusda Penguatan Komitmen dan Aksi Nyata Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis Berkelanjutan. Dirjen Adwil, Safrizal Zakaria Ali, Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, hadir memberikan arahan penting mengenai peran strategis kepemimpinan daerah dalam mengatasi penyakit menular ini.

Menurut Safrizal, tuberkulosis bukan sekadar masalah kesehatan yang harus ditangani oleh sektor kesehatan saja. Isu ini merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memerlukan keterlibatan aktif semua pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat hingga tingkat desa. Mantan Pejabat Sementara Gubernur Aceh ini juga membagikan pengalaman berharga selama menangani pandemi COVID-19 sebagai Wakil Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Nasional.

Pengalaman penanganan COVID-19 membuktikan bahwa ketika seluruh unsur pemerintah bergerak dalam satu komando, didukung kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat, tantangan sebesar apa pun dapat dihadapi bersama. Semangat kolaborasi yang sama harus kita hadirkan dalam percepatan penanggulangan TBC.

Keberhasilan Indonesia mengendalikan pandemi menjadi bukti nyata bahwa koordinasi yang baik antara kementerian dan lembaga, ditambah dukungan masyarakat, mampu mengatasi krisis besar. Dirjen Adwil mengajak para gubernur, bupati, dan wali kota untuk meneladani praktik negara-negara lain yang berhasil menekan angka tuberkulosis secara signifikan melalui pendekatan komprehensif.

Praktik Terbaik Internasional yang Relevan untuk Indonesia

Menurut Safrizal, tidak ada satu pun negara yang berhasil mengendalikan tuberkulosis hanya mengandalkan layanan kesehatan konvensional. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kombinasi dari kepemimpinan kuat, tata kelola efektif, inovasi, pembiayaan memadai, serta kerja sama antar sektor. Beberapa contoh praktik baik yang bisa diterapkan di Indonesia antara lain pengelolaan mobilitas penduduk oleh Kuwait dan Arab Saudi untuk pencegahan penularan.

Di sisi lain, Tiongkok dan Myanmar mengembangkan sistem penemuan kasus aktif berbasis komunitas yang melibatkan masyarakat setempat secara intensif. Ethiopia memperkuat layanan kesehatan primer hingga mencapai tingkat desa, sementara Taiwan dan Qatar memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien. India, Brasil, dan Afrika Selatan menunjukkan cara mengintegrasikan perlindungan sosial dengan inovasi medis dalam pengendalian tuberkulosis secara holistik.

Dirjen Adwil menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam memastikan terbentuknya Wadah Kemitraan Penanggulangan TBC atau Tim Percepatan Penanggulangan TBC. Organisasi ini harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan sinergi yang efektif. Keberhasilan eliminasi tuberkulosis nasional sangat bergantung pada kemampuan daerah mengintegrasikan program lintas perangkat daerah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal.

Kunjungan Lapangan dan Partisipasi Multi-Pihak

Sebelum rapat dimulai, Safrizal bersama Wakil Menteri Kesehatan dr. Benyamin Paulus Octavianus dan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat melakukan kunjungan ke Puskesmas Cisadea. Kunjungan ini bertujuan melihat langsung implementasi penanganan tuberkulosis di Kota Malang yang dinilai memiliki kinerja terbaik dalam pengendalian penyakit tersebut. Berbagai inovasi layanan, mulai dari penemuan kasus secara aktif hingga pendampingan pasien, menjadi praktik baik yang diharapkan dapat direplikasi oleh daerah lain.

Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh berbagai pejabat dari tingkat nasional hingga daerah. Di antaranya adalah Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto, Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib, serta pejabat dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Kesehatan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, dan Kementerian Sekretariat Negara. Kehadiran camat, lurah, kepala desa, kepala puskesmas, PKK, Posyandu, dan kader tuberkulosis dari berbagai daerah menunjukkan komitmen luas dalam percepatan eliminasi tuberkulosis di Indonesia.

Dirjen Adwil meminta seluruh pemimpin daerah untuk memimpin langsung kolaborasi lintas sektor di wilayah masing-masing sebagai langkah konkret menuju Indonesia bebas tuberkulosis. Dengan sinergi yang kuat antara semua pihak, target eliminasi tuberkulosis nasional diyakini dapat dicapai secara lebih cepat dan berkelanjutan.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Eliminasi TBC di Indonesia

Apa target eliminasi TBC di Indonesia? Indonesia menargetkan eliminasi tuberkulosis dengan menurunkan angka kejadian dan kematian akibat TBC secara signifikan melalui pendekatan komprehensif yang melibatkan seluruh sektor.

Bagaimana peran pemerintah daerah dalam eliminasi TBC? Pemerintah daerah berperan penting dalam membentuk wadah kemitraan, mengintegrasikan program lintas perangkat daerah, serta memastikan akses layanan kesehatan bagi masyarakat lokal.

Apa saja strategi yang digunakan untuk penemuan kasus TBC? Strategi penemuan kasus meliputi penemuan aktif berbasis komunitas, skrining rutin, serta pemanfaatan teknologi digital untuk monitoring kepatuhan pengobatan pasien.

Bagaimana kolaborasi lintas sektor membantu percepatan eliminasi TBC? Kolaborasi lintas sektor memastikan bahwa aspek kesehatan, sosial, ekonomi, dan pendidikan saling mendukung dalam menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pengendalian TBC.