Purbaya sebut Bea Cukai batal dibubarkan setelah kinerjanya membaik
Purbaya Sebut Bea Cukai Batal Dibubarkan Pasca Reformasi Berhasil
Menggalangkebaikan.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi mengumumkan bahwa Bea Cukai batal dibubarkan setelah menunjukkan perbaikan kinerja yang signifikan. Pengumuman ini disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juli 2026 di Jakarta pada hari Selasa. Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mempertahankan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) menandai berakhirnya wacana pengalihan fungsi pengawasan kepada Société Générale de Surveillance (SGS). Sebelumnya, kepala negara sempat menyatakan keinginan untuk membubarkan lembaga tersebut, namun kini posisinya berubah setelah melihat potensi perbaikan yang dapat diwujudkan.
Evaluasi Mendalam dan Sinyal Positif dari Presiden
Purbaya menjelaskan bahwa Presiden telah mengamati kemajuan yang nyata di lingkungan Bea Cukai.
“Pak Prabowo sudah melihat ada perbaikan yang signifikan di Bea Cukai. Kalau dulu dia bilang bubarkan, sekarang dia pernah bilang di salah satu rapat dengan kabinet, Bea Cukai bisa diperbaiki dan harus bisa diperbaiki. Itu adalah sinyal yang clear bahwa ada perkembangan positif di Bea Cukai yang diakui oleh pimpinan kita. Jadi kemungkinannya si Bea Cukai akan tetap bertahan,”
Pernyataan ini menjadi fondasi kuat bagi kelanjutan reformasi internal yang telah dimulai.
Perubahan yang terjadi tidak hanya bersifat permukaan, melainkan mencakup perombakan struktur organisasi secara menyeluruh. Penempatan pejabat-pejabat baru di posisi-posisi strategis menjadi salah satu kunci keberhasilan reformasi ini. Purbaya menekankan bahwa para pimpinan tingkat atas di Bea Cukai kini memiliki pemahaman yang lebih baik tentang tanggung jawab mereka.
“Bea Cukai progresnya sudah amat baik. Kita sudah kocok ulang pegawai-pegawai di sana, dan sekarang yang di pucuk-pucuk pimpinan sudah orang-orang yang relatif lebih baik. Dan mereka tahu kalau mereka enggak baik, mereka akan dibubarkan, itu yang penting tadi,”
Performa Keuangan dan Penurunan Penyelundupan
Data yang dirilis menunjukkan bahwa hingga bulan Juni 2026, penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai mencapai angka Rp152 triliun. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 3,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menjadi indikator positif bahwa reformasi yang dijalankan memberikan dampak nyata terhadap pendapatan negara. Selain aspek penerimaan, penurunan volume barang selundupan juga menjadi pencapaian penting.
Pakaian bekas impor yang sebelumnya banyak beredar secara ilegal kini semakin terkendali. Penindakan terhadap rokok ilegal juga mengalami peningkatan yang signifikan, menunjukkan efektivitas strategi baru yang diterapkan. Bea Cukai mengubah pendekatan konvensional dalam menangani pelanggaran kepabeanan. Sistem lama yang hanya menyita barang ilegal sementara kendaraan dan pengemudinya dilepaskan telah diganti dengan mekanisme yang lebih ketat.
“Setiap truk atau kendaraan yang melakukan praktik ilegal, tahan dulu sampai clear betul. Saya tahan betul supaya cost untuk melakukan praktik ilegal itu menjadi mahal. Jadi sekarang di seluruh kantor Bea Cukai di seluruh Indonesia mungkin itu penuh dengan truk-truk atau mobil-mobil yang mengangkut barang ilegal itu,”
Integrasi Teknologi AI untuk Pengawasan Modern
Tidak berhenti pada perubahan regulasi dan struktur organisasi, Bea Cukai juga mulai mengintegrasikan teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pengawasannya. Teknologi ini diterapkan di berbagai pelabuhan untuk meningkatkan efektivitas monitoring dan deteksi dini terhadap potensi pelanggaran. Dengan kombinasi antara reformasi manusia, perubahan pendekatan penegakan hukum, dan adopsi teknologi mutakhir, Bea Cukai diharapkan dapat terus meningkatkan kontribusinya terhadap penerimaan negara serta menjaga stabilitas pasar domestik dari barang-barang ilegal.
