Perlinsos Digital membuka akses bansos di balik perbukitan
Akses bantuan sosial kini menjangkau keluarga di kawasan perbukitan Padang Pariaman
Menggalangkebaikan.com – Perjalanan Eli Suarni untuk memperoleh bantuan sosial akhirnya menemukan titik terang pada Oktober 2026. Warga Nagari Malai III Koto, Kecamatan Sungai Garinggiang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, itu menerima Program Keluarga Harapan (PKH) setelah bertahun-tahun menunggu. Bagi Eli, bantuan tersebut memiliki arti besar karena kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak tetap berjalan di tengah kondisi ekonomi keluarga yang terbatas.
Eli tinggal di wilayah perbukitan dan mengandalkan penghasilan keluarga dari pekerjaan informal. Suaminya sebelumnya menjadi tulang punggung keluarga sebagai buruh tani. Namun, serangan asam urat yang berulang membuat sang suami tidak lagi sanggup menjalankan pekerjaan berat seperti dahulu. Pada saat yang sama, tiga dari tujuh anak mereka masih menempuh pendidikan.
Kondisi itu mendorong Eli untuk berupaya mendapatkan PKH. Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu membiayai sekolah anak-anak sekaligus memberikan ruang napas bagi perekonomian keluarga.
"Saya sudah lama ingin mendapatkan PKH (Program Keluarga Harapan) untuk membantu biaya sekolah anak-anak dan menambah perekonomian keluarga," kata Eli.
Penantian sejak 2018
Upaya Eli dimulai pada 2018. Dalam prosesnya, ia mendatangi pendamping PKH dan juga mengurus informasi ke kantor wali nagari. Meski demikian, bantuan yang diharapkan belum segera diterima. Masa tunggu itu menjadi bagian dari perjalanan panjang keluarga Eli dalam mencari dukungan sosial yang sesuai dengan kebutuhannya.
Selama menanti, Eli kerap memperoleh pesan untuk tetap bersabar. Harapan tersebut terus ia pegang hingga akhirnya bantuan PKH benar-benar diterima pada Oktober 2026. Bagi keluarga yang hidup dari penghasilan tidak tetap, kepastian akses terhadap program perlindungan sosial dapat menjadi hal penting, terutama ketika kebutuhan anak-anak untuk bersekolah tidak dapat ditunda.
"Uni sabar ajalah menunggu, suatu saat pasti akan dapat," demikian petuah yang kerap ia dengar selama menunggu.
Pengalaman Eli juga menggambarkan tantangan yang dapat dihadapi warga di daerah dengan kondisi geografis perbukitan. Jarak, keterbatasan mobilitas, dan kebutuhan untuk mendatangi pihak terkait dapat membuat proses pencarian informasi maupun pengajuan bantuan terasa lebih berat. Karena itu, kemudahan layanan digital menjadi relevan ketika warga tidak selalu dapat mengakses layanan secara langsung dengan cepat.
Pendaftaran melalui telepon genggam
Kemudahan yang dirasakan Eli berkaitan dengan Perlinsos Digital, atau digitalisasi Perlindungan Sosial. Program Kementerian Sosial ini dikembangkan melalui kerja sama lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital. Sistem tersebut membuka jalur pendaftaran bantuan melalui telepon genggam, sehingga warga dapat memulai proses akses layanan dari perangkat yang mereka gunakan sehari-hari.
Untuk melakukan pendaftaran, warga perlu menyiapkan KTP, mengaktifkan Identitas Kependudukan Digital atau IKD, mencantumkan ID pelanggan PLN, serta menjalani verifikasi wajah. Rangkaian persyaratan ini menunjukkan bahwa proses digital tetap membutuhkan identitas yang dapat diverifikasi. Dengan demikian, kemudahan penggunaan perangkat seluler berjalan seiring dengan kebutuhan memastikan data pendaftar dikenali dengan tepat.
"Sekarang ternyata sangat mudah, kita bisa mendaftar lewat HP," tuturnya.
Bagi Eli, perubahan cara pendaftaran tersebut terasa langsung. Proses yang sebelumnya ia jalani dengan mendatangi pendamping maupun kantor wali nagari kini dapat dilakukan melalui ponsel. Kemudahan ini tidak menghapus pentingnya pendampingan bagi warga yang membutuhkan bantuan memahami layanan, tetapi dapat mengurangi hambatan awal untuk mengakses informasi dan mengajukan kebutuhan sosial.
"Alhamdulillah, sangat gampang," tambah Eli.
Arti digitalisasi bagi keluarga rentan
Digitalisasi perlindungan sosial dapat memberi arti khusus bagi keluarga seperti Eli Suarni. Ketika sumber penghasilan utama terganggu oleh kondisi kesehatan dan anak-anak masih memerlukan biaya pendidikan, akses yang lebih sederhana terhadap program bantuan menjadi kebutuhan nyata. Teknologi dalam konteks ini bukan sekadar perubahan cara mengisi pendaftaran, melainkan sarana untuk mendekatkan layanan kepada warga yang tinggal jauh dari pusat layanan.
Meski pendaftaran dapat dilakukan melalui telepon genggam, warga tetap perlu memastikan dokumen dan data yang digunakan sesuai. KTP, IKD, ID pelanggan PLN, serta verifikasi wajah merupakan bagian dari proses yang perlu dipersiapkan. Pemahaman atas tahapan tersebut penting agar calon penerima dapat mengikuti mekanisme pendaftaran dengan lebih lancar.
Kisah Eli memperlihatkan bahwa akses bantuan sosial tidak hanya berkaitan dengan keberadaan program, tetapi juga dengan kemudahan warga untuk menjangkaunya. Setelah menunggu sejak 2018, ia akhirnya menerima PKH melalui proses yang ia nilai lebih praktis. Di balik perbukitan Nagari Malai III Koto, penggunaan layanan digital membuka kemungkinan baru bagi keluarga untuk mengurus akses perlindungan sosial tanpa selalu bergantung pada perjalanan langsung ke lokasi layanan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Perlinsos Digital membuka akses bansos di balik?Perlinsos Digital membuka akses bansos di balik is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Perlinsos Digital membuka akses bansos di balik matter?Perlinsos Digital membuka akses bansos di balik matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.