Menggalangkebaikan.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Merawat ruang untuk kota masa depan

Published · Updated · By Rina Firmansyah - menggalangkebaikan.com

Foto : Rina Firmansyah - menggalangkebaikan.com

Menata Fondasi Kota yang Tetap Nyaman Hingga Dua Dekade Mendatang

Menggalangkebaikan.com – Surabaya menghadapi pekerjaan besar yang tidak cukup dijawab dengan pembangunan gedung, pelebaran jalan, atau bertambahnya pusat kegiatan ekonomi. Kota yang benar-benar layak dihuni perlu menjamin kebutuhan sehari-hari warganya, mulai dari air bersih, lingkungan yang terbebas dari beban sampah, hingga ruang hijau yang mudah diakses.

Isu-isu tersebut menjadi perhatian dalam diskusi antara Pemerintah Kota Surabaya dan delegasi Centre for Liveable Cities (CLC) Singapura mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW Kota Surabaya 2025–2045 pada Senin, 12 Oktober 2026. Pertemuan itu menyoroti tiga bidang penting bagi keberlanjutan kota: pengolahan air baku, pengelolaan sampah, serta penyediaan ruang terbuka hijau.

Pertukaran gagasan ini menunjukkan bahwa perencanaan kota bukan sekadar urusan pembagian zona pada peta. Pengaturan ruang menentukan apakah pertumbuhan kawasan permukiman, perdagangan, dan jasa dapat berlangsung tanpa mengorbankan layanan dasar serta daya dukung lingkungan.

RTRW sebagai arah pembangunan jangka panjang

Surabaya telah memiliki landasan perencanaan melalui Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 3 Tahun 2025 tentang RTRW. Dokumen tersebut berlaku untuk periode 2025 hingga 2045 dan menjadi acuan pembangunan wilayah selama 20 tahun.

Arah yang ditetapkan adalah pembentukan kota kompak yang berfungsi sebagai pusat permukiman, perdagangan, dan jasa bertaraf internasional dengan pendekatan inklusif. Target itu membawa konsekuensi yang luas. Pembangunan fisik perlu berjalan bersama perlindungan lingkungan, pengawasan pemanfaatan lahan, dan upaya menaikkan kualitas hidup warga.

Rentang waktu sampai 2045 memberi ruang bagi Surabaya untuk tidak terpaku pada penyelesaian masalah sesaat. Dalam kurun dua dekade, kota perlu mengantisipasi perubahan jumlah penduduk, kebutuhan ekonomi yang berkembang, tekanan perubahan iklim, serta ketersediaan lahan yang terbatas.

Semua unsur tersebut harus dipertimbangkan sebagai satu kesatuan. Keputusan membangun sebuah kawasan hari ini dapat memengaruhi kebutuhan air, mobilitas, kapasitas pengolahan limbah, dan kenyamanan lingkungan di masa depan. Karena itu, perencanaan jangka panjang perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang konsisten dari waktu ke waktu.

Air, sampah, dan hijau sebagai satu sistem

Ketersediaan air bersih merupakan salah satu penopang utama kehidupan perkotaan. Pertumbuhan hunian tanpa perhitungan kebutuhan air akan meningkatkan tekanan terhadap sistem penyediaan air. Hal serupa berlaku bagi perkembangan aktivitas ekonomi yang tidak dibarengi pengelolaan limbah memadai, karena dampaknya dapat menambah beban terhadap lingkungan.

Ruang terbuka hijau juga tidak bisa diperlakukan sebagai pelengkap pembangunan. Kawasan hijau membantu kota menyerap air hujan dan mengurangi dampak panas di area terbangun. Ketika lahan terus berubah menjadi bangunan tanpa perlindungan yang cukup bagi ruang hijau, kemampuan kota menghadapi hujan dan suhu tinggi dapat ikut menurun.

Keterkaitan ini menjadikan tiga sektor tersebut penting dibahas secara bersama-sama. Permukiman baru membutuhkan air. Kawasan perdagangan memerlukan sistem pengelolaan limbah dan akses transportasi. Wilayah padat perlu memiliki ruang publik yang memberi kesempatan warga untuk beraktivitas dengan lebih nyaman. Satu kebijakan yang mengabaikan unsur lain berpotensi menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.

Keunggulan sebuah RTRW tidak hanya terlihat dari detail pembagian fungsi lahan. Nilai sebenarnya terletak pada kemampuannya menyambungkan rencana ruang dengan kesiapan infrastruktur, kapasitas lingkungan, dan kebutuhan nyata masyarakat.

Pembelajaran bersama untuk kota layak huni

CLC mengembangkan kerangka kota layak huni yang menempatkan daya saing ekonomi, kelestarian lingkungan, dan mutu kehidupan sebagai tujuan yang saling menguatkan. Kerangka itu memberi perhatian pada perencanaan terpadu, ketahanan untuk jangka panjang, serta pelaksanaan kebijakan yang efektif.

Bagi Surabaya, pendekatan tersebut dapat menjadi bahan perenungan dalam menjalankan RTRW. Kawasan yang akan tumbuh sebagai pusat perdagangan, misalnya, perlu disiapkan bersamaan dengan kebutuhan airnya, sarana pengolahan air limbah, jaringan transportasi, dan ruang publik. Pertumbuhan ekonomi akan lebih berkelanjutan apabila dampak lingkungannya dihitung sejak tahap perencanaan.

Diskusi dengan delegasi Singapura juga membuka peluang pembelajaran dua arah. Surabaya tidak hanya berada dalam posisi mencari referensi dari pengalaman kota lain. Praktik pembangunan yang telah dijalankan di kota ini juga dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan dalam pembicaraan mengenai pembangunan perkotaan yang berkelanjutan.

Namun, kunjungan dan diskusi hanyalah titik awal. Nilai terpenting muncul ketika pengetahuan yang diperoleh diwujudkan dalam kebijakan, investasi, serta pelayanan publik yang dapat dirasakan langsung oleh warga.

Menjaga rencana agar tidak berhenti di atas kertas

Tantangan terbesar RTRW adalah memastikan keselarasan antara rencana dan pelaksanaannya. Dokumen tata ruang berlaku melampaui masa kepemimpinan, sementara arah anggaran, kebutuhan politik, dan tekanan pembangunan dapat berubah dari tahun ke tahun.

Tanpa pengendalian pemanfaatan ruang yang tegas dan berkelanjutan, rencana jangka panjang berisiko hanya menjadi dokumen administratif. Kota membutuhkan mekanisme evaluasi rutin yang terbuka serta dapat diukur agar setiap perubahan penggunaan lahan dapat diuji kesesuaiannya dengan RTRW.

Evaluasi itu juga perlu memperhatikan dampak perubahan lahan terhadap lingkungan dan pelayanan dasar. Pembangunan tidak semestinya hanya mengikuti peluang investasi yang muncul, melainkan harus tetap menempatkan kepentingan publik sebagai pijakan.

Di situlah makna merawat ruang kota. Surabaya tidak hanya sedang menentukan lokasi bagi bangunan atau kegiatan ekonomi, tetapi juga menyiapkan kondisi hidup bagi masyarakat pada tahun-tahun mendatang. Air yang aman, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, dan ruang hijau yang terlindungi adalah bagian dari fondasi kota masa depan yang lebih tangguh, sehat, dan nyaman.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Merawat ruang untuk kota masa depan?

Merawat ruang untuk kota masa depan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Merawat ruang untuk kota masa depan matter?

Merawat ruang untuk kota masa depan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.