Menggalangkebaikan.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres dari rambut jagung

Published · Updated · By Maya Wijaya - menggalangkebaikan.com

Foto : Maya Wijaya - menggalangkebaikan.com

Zeazen Herbal Tea, Inovasi Mahasiswa UMM Mengolah Rambut Jagung Menjadi Minuman Relaksasi

Menggalangkebaikan.com – Tim mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan teh herbal berbahan rambut jagung manis untuk menghadirkan pilihan minuman yang ditujukan bagi kebutuhan relaksasi. Produk bernama Zeazen Herbal Tea itu memadukan rambut jagung dengan daun mint dan bunga melati dalam bentuk teh celup artisan.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan limbah pertanian di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Pada masa panen, rambut jagung manis umumnya tidak dimanfaatkan dan kerap berakhir sebagai sampah di lahan. Sebagian limbah bahkan dibuang atau dibakar tanpa menghasilkan nilai ekonomi bagi warga maupun petani.

“Ide pembuatan teh antistres ini bermula dari kepedulian kami terhadap banyaknya limbah pertanian yang terbuang sia-sia, salah satunya sisa panen jagung di Desa Sragi, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar,” kata anggota tim pencipta Zeazen Herbal Tea, Zakiy Zamzi.

Dari Sisa Panen Menjadi Produk Bernilai

Dalam pengembangannya, tim memilih rambut jagung dari jenis jagung manis. Bahan tersebut diperoleh dari Blitar dalam keadaan kering, kemudian dihaluskan dengan proses yang dirancang agar seratnya tetap terjaga. Setelah itu, serbuk rambut jagung dicampurkan dengan bahan herbal lain sesuai komposisi formula sebelum dimasukkan ke kantong teh.

“Kami mendapatkan rambut jagung manis dari Blitar dalam kondisi kering, lalu diblender halus tanpa menghilangkan serat kandungannya, baru digabungkan sesuai persentase formula ke dalam kantong teh,” tambah Zakiy.

Pengolahan ini menunjukkan bahwa sisa hasil pertanian dapat memperoleh fungsi baru melalui inovasi pangan. Bagi desa pemasok, pemanfaatan rambut jagung berpotensi membuka nilai tambah dari material yang sebelumnya tidak dianggap sebagai komoditas. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan upaya mengurangi bahan organik yang dibuang begitu saja setelah panen.

Tim Zeazen Herbal Tea mulai mengembangkan produk tersebut sejak April di bawah pendampingan dosen Teknologi Pangan UMM, Ayu Diawi. Selain merancang rasa dan karakter produk, mereka perlu memastikan mutu bahan baku yang dipakai. Tahap ini penting karena bahan herbal membutuhkan penanganan yang konsisten, mulai dari kondisi bahan saat diterima hingga proses pencampuran dalam kemasan.

Perpaduan Rambut Jagung, Mint, dan Melati

Zeazen Herbal Tea tidak hanya mengandalkan rambut jagung sebagai bahan utama. Daun mint dan bunga melati digunakan untuk membangun karakter minuman yang lebih segar sekaligus mendukung pengalaman minum yang menenangkan. Kombinasi tersebut juga menjadi pembeda dari pemanfaatan rambut jagung yang lazimnya belum banyak ditemui dalam produk teh siap seduh.

Rambut jagung mengandung flavonoid, termasuk maysin dan luteolin, yang dikaitkan dengan sifat antioksidan. Sementara itu, daun mint memiliki rosmarinic acid serta mentol yang memberikan kesan segar. Bunga melati dipilih karena kaya akan senyawa volatil, termasuk linalool, yang mendukung sensasi aromatik lebih rileks.

“Rambut jagung memiliki flavonoid, seperti maysin dan luteolin untuk antioksidan. Daun mint mengandung rosmarinic acid dan mentol yang memberi sensasi segar, sedangkan bunga melati kaya senyawa volatil seperti linalool yang mendukung pengalaman sensoris lebih rileks,” ujarnya.

Produk ini dirancang untuk konsumen yang ingin mengambil jeda dari aktivitas belajar maupun bekerja. Zakiy menilai tekanan dalam rutinitas pelajar dan pekerja semakin terasa dari waktu ke waktu, sehingga kebutuhan akan momen relaksasi menjadi relevan. Teh herbal tersebut diposisikan sebagai teman menikmati waktu istirahat, bukan sebagai pengganti penanganan medis atau konsultasi profesional untuk persoalan kesehatan.

“Semakin tahun, seorang pelajar dan pekerja itu kan pasti terbebani, pasti mereka membutuhkan relaksasi,” ucapnya.

Memasuki Tahap Komersialisasi Awal

Saat ini, Zeazen Herbal Tea telah memasuki fase awal komersialisasi. Teh celup artisan ini tersedia dalam pilihan kemasan premium dengan kisaran harga Rp75.000 sampai Rp100.000. Langkah tersebut membawa proyek mahasiswa ini dari tahap pengembangan produk ke upaya membangun pasar bagi inovasi berbasis bahan lokal.

Tim menyebut teh tersebut memberikan efek rileks dan membantu menstabilkan gula darah. Selain itu, sejumlah konsumen perempuan melaporkan rasa nyeri menstruasi yang berkurang setelah mengonsumsinya. Pengalaman konsumen dapat menjadi masukan untuk pengembangan produk, namun manfaat kesehatan setiap orang dapat berbeda dan tetap memerlukan perhatian sesuai kondisi masing-masing.

Pengembangan Zeazen Herbal Tea memperoleh dukungan pendanaan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi. Program ini diharapkan dapat melampaui pencapaian sebagai produk kewirausahaan kampus semata.

Ke depan, inovasi tersebut diarahkan untuk menjadi solusi yang berkelanjutan: meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat desa pemasok, mengurangi limbah pertanian, dan mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara lebih bertanggung jawab. Dari rambut jagung yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah, lahir produk yang mempertemukan kreativitas mahasiswa, kebutuhan konsumen, dan peluang ekonomi di tingkat desa.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres?

Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres matter?

Mahasiswa UMM ciptakan teh antistres matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.