Menteri Ekraf: Aplikasi telah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari
Aplikasi Digital Kian Menentukan Arah Ekonomi Kreatif Indonesia
Menggalangkebaikan.com – Perkembangan aplikasi digital telah menempatkan sektor ini sebagai salah satu penggerak penting ekonomi kreatif Indonesia. Di tengah aktivitas masyarakat yang semakin terhubung secara daring, aplikasi tidak lagi sekadar produk teknologi, melainkan sarana yang digunakan untuk bekerja, belajar, berbelanja, menikmati hiburan, hingga merintis usaha.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan peran tersebut saat membuka Indonesia Application Summit (InApps) 2026 di Tangerang, Banten, pada Senin. Ia melihat pertumbuhan industri aplikasi berkaitan langsung dengan peluang masa depan ekonomi digital nasional.
“Kita bekerja melalui aplikasi, belajar melalui aplikasi, bertransaksi, menikmati hiburan, bahkan membangun usaha melalui aplikasi,” kata Teuku Riefky.
Kehadiran aplikasi dalam berbagai kegiatan sehari-hari membuat pengembangannya memiliki dampak yang lebih luas daripada kemajuan perangkat lunak semata. Ketika sebuah layanan digital tumbuh, ekosistem yang terbentuk dapat melibatkan pencipta produk, pekerja kreatif, pelaku usaha, pengguna, investor, dan mitra pendukung lainnya.
Subsektor Prioritas dalam Rindekraf
Pemerintah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia. Arah kebijakan itu dituangkan melalui Rencana Induk Ekonomi Kreatif atau Rindekraf 2026-2045, yang melibatkan sekitar 24 kementerian dan lembaga untuk memperkuat pengembangan ekonomi kreatif di tingkat nasional sekaligus mendukung pemerintah daerah.
Rindekraf memuat 21 subsektor ekonomi kreatif yang mencakup bidang berbasis kebudayaan, desain, teknologi digital, serta media. Dari jumlah tersebut, tujuh subsektor ditetapkan sebagai prioritas, termasuk subsektor aplikasi.
“Di dalam Rindekraf ini ada 21 subsektor ekonomi kreatif. Ada yang berbasis kebudayaan, desain, teknologi digital dan media. Dari 21 subsektor ini, ada tujuh subsektor ekonomi kreatif yang menjadi prioritas, termasuk subsektor aplikasi,” katanya.
Jumlah subsektor itu bertambah dari 17 menjadi 21. Penambahan tersebut mencerminkan perubahan lanskap industri kreatif yang semakin dipengaruhi teknologi digital. Teknologi baru, konten digital, dan pengisi suara termasuk bidang yang kini memperoleh tempat tersendiri dalam pengelompokan ekonomi kreatif.
Subsektor teknologi baru mencakup kegiatan kreatif yang memanfaatkan kecerdasan buatan, rantai blok, internet untuk segala, Web3, data skala besar, serta keamanan siber. Pemerintah membentuk direktorat khusus untuk subsektor ini, demikian pula untuk bidang konten digital. Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital dipandang sebagai bagian yang perlu dikelola secara lebih fokus dalam kebijakan ekonomi kreatif.
Peluang Kecerdasan Buatan dan Kebutuhan Tata Kelola
Kecerdasan buatan membuka ruang pertumbuhan yang semakin besar bagi pelaku industri aplikasi di Indonesia. Teknologi ini dapat digunakan dalam berbagai proses, mulai dari pengembangan layanan, pengolahan informasi, penguatan pengalaman pengguna, hingga penciptaan bentuk-bentuk konten digital baru. Namun, percepatan inovasi juga perlu disertai perhatian pada etika dan tata kelola yang baik.
Bagi industri aplikasi, keseimbangan antara inovasi dan tanggung jawab menjadi penting agar pemanfaatan teknologi memberi nilai jangka panjang. Pengembangan produk digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis, tetapi juga kepercayaan pengguna, keamanan, serta kesiapan ekosistem untuk menggunakan teknologi baru secara tepat.
“Karena itu, ketika kita berbicara mengenai industri aplikasi, sesungguhnya kita sedang berbicara mengenai masa depan ekonomi digital Indonesia,” ujarnya.
Posisi strategis aplikasi muncul karena platform tersebut mempertemukan banyak unsur dalam ekosistem digital. Sebuah aplikasi yang berkembang dapat menjadi ruang bagi transaksi, distribusi layanan, kolaborasi kreatif, dan aktivitas usaha. Dampaknya tidak berhenti pada perusahaan pengembang, melainkan dapat merambat ke penciptaan pekerjaan, masuknya modal, dan peningkatan kemampuan Indonesia bersaing.
“Ketika sebuah aplikasi berkembang, yang tumbuh bukan hanya perusahaan, tetapi juga lapangan kerja, investasi, dan daya saing bangsa,” ujarnya.
Investasi dan Kontribusi Ekonomi Kreatif
Besarnya minat investasi memperlihatkan posisi ekonomi kreatif dalam perekonomian nasional. Pada 2025, investasi yang masuk ke sektor ekonomi kreatif mencapai sekitar Rp180 triliun. Subsektor aplikasi menjadi salah satu penyumbang terbesar dengan nilai sekitar Rp54,23 triliun.
Kontribusi ekonomi kreatif terhadap produk domestik bruto Indonesia kini berada di kisaran 7,38 persen. Angka tersebut menggambarkan bahwa sektor kreatif telah menjadi bagian penting dari kegiatan ekonomi, terutama ketika produk, layanan, dan talenta digital semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Selain modal dan nilai ekonomi, karakter tenaga kerja di sektor ini juga menjadi perhatian. Sekitar 63 persen pekerja ekonomi kreatif berasal dari generasi Z dan milenial. Sementara itu, perempuan mencakup 58 persen dari tenaga kerja di sektor tersebut.
“Jadi sektor ini sangat inklusif dan berkelanjutan. Berkelanjutan karena generasi mudanya banyak terlibat, inklusif karena perempuan di sektor ekonomi kreatif juga cukup mendominasi,” katanya.
Keterlibatan kelompok usia muda memberi sektor kreatif basis regenerasi yang kuat, sedangkan partisipasi perempuan memperlihatkan luasnya akses dan peran dalam kegiatan ekonomi tersebut. Kondisi ini membuat pengembangan aplikasi dan ekonomi kreatif tidak hanya relevan bagi perusahaan teknologi besar, tetapi juga bagi pelaku usaha, kreator, dan tenaga profesional dari berbagai latar belakang.
Kolaborasi untuk Menembus Pasar Global
Tantangan utama yang dihadapi industri aplikasi adalah meningkatnya kebutuhan talenta digital, terutama ketika perubahan teknologi berlangsung cepat. Kebutuhan tersebut mencakup kemampuan yang relevan dengan perkembangan produk digital dan teknologi baru, sekaligus kesiapan untuk beradaptasi dengan tuntutan pasar.
Karena itu, pemerintah mendorong kerja sama yang lebih erat antara talenta digital, pelaku usaha, investor, dan pemerintah di dalam maupun luar negeri. Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka jalan agar karya anak bangsa memperoleh jejaring yang lebih luas dan peluang masuk ke pasar global.
“Kita ingin mempertemukan agar hasil karya anak bangsa bisa berkolaborasi dengan teman-teman dari negara-negara sahabat, investor-investor internasional, dan juga bisa masuk ke pasar global,” kata Teuku Riefky.
Penguatan ekosistem aplikasi menjadi penting agar Indonesia tidak hanya berperan sebagai pasar bagi produk digital. Dengan investasi, talenta, tata kelola, dan kemitraan yang berkembang bersama, subsektor aplikasi diharapkan terus mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif serta memperkuat daya saing Indonesia di era digital.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Menteri Ekraf?Menteri Ekraf is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Menteri Ekraf matter?Menteri Ekraf matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.