AMP
Menggalangkebaikan.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Densus 88 edukasi 1.700 mahasiswa UIN Palembang tentang radikalisme

Published · Updated · By Indah Ananda - menggalangkebaikan.com

Foto : Indah Ananda - menggalangkebaikan.com

1.700 Mahasiswa Baru UIN Raden Fatah Palembang Dibekali Wawasan Cegah Radikalisme di Era Digital

Menggalangkebaikan.com – Kecenderungan penyebaran paham ekstrem kini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang fisik seperti surau, majelis taklim, atau ruang kelas. Pergeseran pola radikalisasi ke ranah maya membuat lingkungan kampus—yang dihuni jutaan generasi muda aktif di media sosial—menjadi sasaran strategis bagi narasi-narasi intoleran. Menyadari ancaman tersebut, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri melalui Satuan Tugas Wilayah Sumatera Selatan turun langsung ke Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang untuk memberikan pembekalan pencegahan intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) kepada 1.700 mahasiswa baru pada Rabu.

Peran Mahasiswa sebagai Benteng Literasi Digital

Kordinator tim Densus 88 AT Polri, Briptu Achmad Nur Rohman, membuka sesi edukasi dengan menegaskan bahwa media sosial telah berubah menjadi kanal utama distribusi propaganda, berita bohong, dan doktrin ekstrem yang secara khusus menargetkan kelompok rentan, termasuk mahasiswa yang baru memasuki fase pencarian identitas intelektual.

"Mahasiswa harus menjadi agen perubahan yang aktif menjaga persatuan, meningkatkan literasi digital, serta menerapkan prinsip 'Stop, Cek, Pikir, Bagikan' sebelum menyebarkan informasi."

Pernyataan Rohman merujuk pada kerangka berpikir kritis sederhana namun efektif: berhenti sejenak sebelum membagikan konten, verifikasi sumber, pikirkan implikasinya, dan baru kemudian memutuskan untuk menyebarkan atau tidak. Dalam konteks kampus Islam di Sumatera Selatan, pendekatan ini dinilai relevan karena mahasiswa UIN Raden Fatah kerap menjadi ujung tombak penyebaran informasi ke lingkungan keluarga dan komunitas di daerah asal mereka.

Empat Konsensus sebagai Fondasi Kebangsaan

Rohman juga menekankan bahwa penguatan wawasan kebangsaan yang bertumpu pada empat konsensus dasar—Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia—merupakan benteng utama untuk memblokir penetrasi pemahaman radikal di tengah civitas akademika. Ia mengingatkan bahwa radikalisme tidak selalu datang dari luar; ia dapat tumbuh perlahan ketika seorang mahasiswa mulai mempertanyakan legitimasi identitas nasionalnya sendiri melalui paparan narasi yang memecah belah di lini masa.

Di Sumatera Selatan, yang secara historis menjadi salah satu titik awal pergerakan nasional dan memiliki keragaman etnis serta agama yang tinggi, konsolidasi nilai kebangsaan di tingkat perguruan tinggi dianggap krusial. UIN Raden Fatah sendiri, sebagai institusi pendidikan tinggi Islam negeri terbesar di provinsi tersebut, menampung mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah, sehingga ruang dialog lintas identitas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kampus.

Moderasi Keagamaan: Memisahkan Ushul dan Furu'

Sesi pembekalan tidak berhenti pada dimensi kebangsaan. Narasumber kedua dari Densus 88 AT Polri, Briptu M. Farhan, membawa perspektif keagamaan dengan menyoroti pentingnya pemahaman Islam yang moderat melalui pemisahan konseptual antara perkara ushul (pokok-pokok agama) dan furu' (cabang-cabang agama).

Farhan menjelaskan bahwa kesalahpahaman dalam menyikapi perbedaan pendapat pada ranah furu' kerap menjadi pintu masuk bagi lahirnya sikap radikal dan intoleran di kalangan generasi muda. Ketika perbedaan metode ijtihad atau mazhab fiqih dipersepsikan sebagai ancaman terhadap aqidah, maka ruang toleransi menyempit dan potensi konflik meningkat.

"Radikalisme sering muncul ketika perbedaan pendapat pada urusan cabang fiqih disikapi secara kaku hingga saling mengafirkan. Padahal, tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihad."

Pendekatan ini sejalan dengan tradisi keilmuan Islam Nusantara yang sejak lama mengakomodasi pluralitas pendapat dalam masalah furu' tanpa mengorbankan kesatuan pada perkara ushul. Bagi mahasiswa baru yang baru saja meninggalkan lingkungan pendidikan menengah, pemahaman semacam ini menjadi bekal penting agar mereka tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang menyederhanakan khitah keagamaan menjadi dikotomi hitam-putih.

Respons Institusi dan Implikasi Jangka Panjang

Dekanat Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTIK) UIN Raden Fatah Palembang menyambut positif pelaksanaan pembekalan tersebut. Pihak fakultas menilai langkah ini strategis untuk membentengi mahasiswa baru dari ancaman ideologi ekstremis sejak awal masa perkuliahan, sebelum pola pikir yang belum matang terpapar secara masif oleh arus informasi digital tanpa filter.

Keputusan untuk menyasar mahasiswa baru—bukan mahasiswa yang sudah berkuliah beberapa semester—memiliki logika tersendiri. Fase transisi dari sekolah menengah ke perguruan tinggi merupakan periode di mana orientasi nilai masih terbuka dan mudah diarahkan. Intervensi dini, baik berupa edukasi kebangsaan maupun penguatan moderasi beragama, diharapkan membentuk kekebalan kognitif yang bertahan sepanjang empat hingga lima tahun masa studi.

Dalam konteks lebih luas, kegiatan ini juga mencerminkan pergeseran pendekatan keamanan nasional Indonesia: dari responsif-reaktif menjadi preventif-edukatif. Alih-alih menunggu insiden terjadi lalu merespons dengan operasi, aparat kini memilih menanamkan literasi dan kesadaran di tingkat akar rumput, termasuk di ruang-ruang kelas perguruan tinggi yang menjadi laboratorium pembentukan opini publik masa depan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Densus 88 edukasi 1 700 mahasiswa?

Densus 88 edukasi 1 700 mahasiswa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Densus 88 edukasi 1 700 mahasiswa matter?

Densus 88 edukasi 1 700 mahasiswa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.