Menggalangkebaikan.com
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bupati: El Nino tak pengaruhi produksi beras di Sidrap

Published · Updated · By Indah Ananda - menggalangkebaikan.com

Foto : Indah Ananda - menggalangkebaikan.com

Sidrap Tahan Guncangan El Niño: Produksi Beras Tetap Stabil di Tengah Musim Kemarau Ekstrem

Menggalangkebaikan.com – Bupati - Fenomena El Niño yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada musim kemarau tahun ini telah memicu kekhawatiran luas di sektor pertanian. Namun, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), yang dikenal dengan julukan "Bumi Nene Mallomo," menunjukkan ketahanan pangan yang relatif kuat. Produksi gabah kering panen (GPK) di daerah tersebut tidak mengalami penurunan berarti, berkat kombinasi intervensi pemerintah daerah dan kerja keras para penyuluh lapangan.

Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif menegaskan bahwa meskipun dampak kekeringan memang terasa di lapangan, efeknya terhadap hasil panen tidak mencapai tingkat yang mengancam ketahanan pangan lokal. Pernyataan ini ia sampaikan dalam sesi bincang lepas bersama sejumlah wartawan di Hotel Claro, Makassar, Sulawesi Selatan, pada hari Minggu.

"Dampak El Nino memang ada, tetapi tidak berpengaruh besar pada hasil panen di Sidrap. Kami berupaya membantu petani mendapatkan air untuk sawah mereka dengan bantuan sarana dan prasarana."

Intervensi Pemerintah Daerah: Pompa, Listrik, dan BBM untuk Sawah

Di balik ketahanan produksi tersebut terdapat serangkaian langkah konkret yang dijalankan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (DTPHPKP) Sidrap. Kepala dinas, Ibrahim, menjelaskan bahwa bantuan pompanisasi dan program listrik masuk sawah telah disalurkan secara masif agar ketersediaan air irigasi tetap terjaga sepanjang musim kering.

"Kita sudah menyerahkan bantuan pompa dan BBM Pertalite, tabung gas LPG, serta token listrik. Ini dilakukan agar petani kita bisa merawat padi sampai panen dengan hasil maksimal."

Ibrahim menambahkan bahwa berbagai intervensi teknis dan pendampingan penyuluh pertanian berhasil menjaga agar lahan tetap produktif meskipun curah hujan sangat minim. Program tersebut telah menjangkau 2.193 titik bor di lokasi-lokasi sasaran, yang secara kolektif melayani sekitar 10.965 hektare persawahan yang terdampak kekeringan.

Skala Produksi dan Kapasitas Lahan Sidrap

Secara geografis, Kabupaten Sidrap membentang di atas wilayah seluas 188.325 hektare. Dari total tersebut, luasan baku lahan persawahan mencapai 52.227 hektare, yang terbagi menjadi sekitar 34 ribu hektare sawah irigasi dan 22 ribu hektare sawah tadah hujan. Komposisi ini menjadikan Sidrap salah satu lumbung beras penting di Sulawesi Selatan.

Dalam kondisi normal, produksi GPK tahunan di Sidrap berkisar antara 434.000 hingga 663.000 ton. Hasil gabah per hektare pada musim panen umumnya berada di rentang 10 sampai 12 ton. Menariknya, bahkan di tengah tekanan kekeringan ekstrem tahun ini, angka produksi tetap mampu mempertahankan level sekitar 10 ton per hektare berkat penerapan sistem irigasi terpadu yang telah dibangun sebelumnya.

Bukti di Lapangan: Tiga Titik Panen yang Menunjukkan Ketahanan

Di Kelurahan Majjelling Wattang, Kecamatan Maritengngae, tercatat luas lahan pertanian mencapai 300 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 52 hektare menerapkan sistem IP300, yakni pola tanam yang memungkinkan petani memanen gabah hingga tiga kali dalam setahun. Meski cuaca kering melanda, hasil panen di wilayah tersebut tetap berada pada kisaran 10 hingga 12,3 ton gabah per hektare.

Kondisi serupa terlihat di Desa Otting, Kecamatan Pitu Riawa. Petani bernama Idris Lakna melaporkan bahwa lahannya berhasil menghasilkan 10 ton gabah per hektare dalam satu siklus panen, dengan nilai ekonomi mencapai Rp83 juta per kali panen. Angka ini menunjukkan bahwa produktivitas ekonomi petani tidak terhambat oleh faktor cuaca.

Di Desa Padangloang, Kecamatan Dua Pitue, dengan luasan baku lahan persawahan sekitar 481 hektare, rata-rata hasil panen juga tetap berada pada level 10 ton per hektare. Konsistensi angka-angka ini di berbagai kecamatan mengindikasikan bahwa intervensi irigasi dan pendampingan teknis berhasil meredam risiko gagal panen.

Persepsi Urban vs Realitas Pedesaan

Syaharuddin Alrif juga menyoroti kesenjangan persepsi antara masyarakat perkotaan dan petani di daerah. Ia mengingatkan bahwa warga di pusat-pusat kota seperti Makassar tidak merasakan langsung guncangan pangan karena distribusi dari daerah produsen tetap berjalan lancar sepanjang rantai pasok tidak terputus.

"Mungkin, yang tinggal di Ibu Kota seperti di Makassar itu tidak begitu merasakan. Tapi, kalau punya keluarga di daerah, coba ditanyakan sendiri bagaimana kerja keras mengatasi dampak kekeringan ini."

Pernyataan ini menggarisbawahi fakta bahwa ketahanan pangan nasional tidak hanya diukur dari ketersediaan di pasar kota, melainkan juga dari kemampuan petani di hulu rantai pasok untuk mempertahankan produksi di tengah tekanan iklim. Bagi Sidrap, kombinasi infrastruktur irigasi, bantuan operasional, dan pendampingan penyuluh telah terbukti menjadi penyangga yang efektif terhadap guncangan El Niño, menjaga agar "Bumi Nene Mallomo" tetap menjadi penyangga pasokan beras di Sulawesi Selatan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Bupati?

Bupati is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bupati matter?

Bupati matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.