Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab tetap relevan hadapi zaman
Warisan Pemikiran Mbah Wahab Kembali Dihidupkan Melalui Bedah Buku di Jombang
Menggalangkebaikan.com – Di tengah derasnya arus polarisasi dan ketegangan sosial yang mewarnai ruang publik Indonesia, sebuah kitab tua karya pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Wahab Chasbullah—yang akrab disapa Mbah Wahab—dibedah ulang di hadapan ratusan peserta di Masjid Gedang, Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, pada Sabtu malam (29/8). Kitab berjudul Penyirep Gemuruh itu menjadi sorotan bukan sekadar sebagai artefak sejarah, melainkan sebagai kerangka berpikir yang dinilai masih mampu menjawab kebuntuan konflik di era kontemporer.
Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji hadir sebagai pembicara utama dalam acara yang diselenggarakan Pusat Studi Pesantren (PSP) Jawa Timur. Kehadirannya bukan tanpa alasan: Sarmuji secara eksplisit menyatakan bahwa gagasan Mbah Wahab, yang tertuang dalam kitab tersebut, tetap memiliki daya guna praktis untuk meredam kegaduhan dan menjembatani perbedaan pandangan yang kian tajam di masyarakat.
Nilai Moderasi sebagai Kompas Penyelesaian Konflik
Dalam paparannya, Sarmuji menyoroti episode historis ketika Mbah Wahab berhasil meredam konflik terkait perluasan Masjid Peneleh di Surabaya. Penyelesaian yang ditempuh kala itu, menurut Sarmuji, mencerminkan empat pilar karakter NU: tawassuth (moderasi), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), dan i'tidal (keadilan).
"Karakter NU yang selama ini kita pahami sebagai tawassuth, tawazun, tasamuh, i'tidal. Yaitu moderat, toleran, lalu tawazun itu seimbang, dan i'tidal yaitu adil," kata Sarmuji dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu.
Sarmuji menekankan bahwa pendekatan Mbah Wahab tidak berhenti pada satu perspektif. Dalam mencari solusi, sang kiai mengakomodasi pandangan ahli fikih sekaligus mendengarkan masukan dari pihak-pihak lain yang memiliki keahlian spesifik. Bagi Sarmuji, metode tersebut menjadi teladan bahwa konflik tidak harus diselesaikan dengan memperbesar jurang perbedaan, melainkan melalui dialog, keseimbangan, dan pencarian titik temu bersama.
Secara visual, Sarmuji tampil mengenakan busana khas nahdliyin—baju dan sarung batik dipadukan peci hitam—sebuah gestur simbolik yang menegaskan kedekatan personalnya dengan tradisi pesantren. Selama acara berlangsung, ia beberapa kali memperhatikan langsung kitab tebal Penyirep Gemuruh yang menampilkan potret Mbah Wahab pada sampulnya.
Perjalanan Panjang Penemuan Naskah
Di balik nilai intelektual kitab tersebut tersimpan kisah penemuan yang tidak kalah menarik. Ayung Notonegoro, peneliti dari Komunitas Pegon Banyuwangi sekaligus penemu naskah kuno Penyirep Gemuruh, menguraikan bagaimana kitab itu akhirnya terungkap setelah belasan tahun terkurung dalam lemari terkunci.
Ayung menjelaskan bahwa penemuan terjadi sekitar tahun 2016 atau 2018, ketika ia melakukan riset sejarah NU di Banyuwangi atas penugasan dari PCNU setempat. Dalam perjalanan penelitiannya, ia singgah di Pesantren Lateng, Banyuwangi. Di sana, ia menemukan dua lemari milik almarhum Kiai Saleh yang menyimpan koleksi kitab-kitab tua. Namun, kedua lemari itu telah tergembok selama belasan tahun dan tidak pernah dibuka oleh siapa pun.
Kondisi tersebut diperparah oleh kepercayaan lokal yang beredar di masyarakat: siapa pun yang membuka lemari tersebut akan mengalami nasib buruk. Akibatnya, hampir tidak ada yang berani menyentuh koleksi di dalamnya. Ayung kemudian melakukan pendekatan bertahap kepada keluarga ahli waris untuk memperoleh izin. Proses membangun kepercayaan itu memakan waktu dan kesabaran.
"Nah, dari sana kemudian terjadilah trust, tumbuh kepercayaan itu. Akhirnya kami diberikan kepercayaan untuk membuka lemari yang sudah belasan tahun tergembok itu. Tidak apa-apa, kalau saya sakit demi ilmu pengetahuan," kata Ayung.
Setelah lemari akhirnya dibuka, Ayung menemukan sejumlah kitab tua bernilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah Penyirep Gemuruh karya KH Wahab Chasbullah, yang kemudian menjadi objek kajian dalam bedah buku di Jombang tersebut.
"Salah satunya mungkin yang kita bedah pada malam hari ini, yaitu sebuah kitab yang berjudul Penyirep Gemuruh karya Kiai Wahab," ujarnya.
Ayung juga menambahkan bahwa naskah serupa tidak hanya tersimpan di Pesantren Lateng. Menurutnya, salinan serupa pernah berada di kantor PCNU Surabaya di Jalan Buweng, menunjukkan bahwa kitab ini pernah beredar di beberapa titik sebelum akhirnya sebagian koleksinya terlupakan.
Konteks Muktamar dan Makna Akademis
Bedah buku ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang menyemarakkan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Pemilihan momentum tersebut bukan kebetulan: di tengah dinamika organisasi dan tantangan sosial yang semakin kompleks, pengkajian ulang pemikiran para pendiri NU dipandang sebagai upaya memperbarui fondasi ideologis tanpa meninggalkan akar tradisi.
Di samping Sarmuji dan Ayung Notonegoro, acara juga menghadirkan Fathul H Panatapraja, penerjemah sekaligus penulis kitab Penyirep Gemuruh, yang memberikan perspektif tekstual dan linguistik atas isi kitab. Kehadiran tiga narasumber dengan latar belakang berbeda—politik, sejarah lokal, dan kajian teks—memberi dimensi multidisipliner pada diskusi malam itu.
Relevansi pemikiran Mbah Wahab yang diangkat dalam acara ini menyentuh persoalan fundamental: bagaimana sebuah tradisi keagamaan yang berusia lebih dari satu abad tetap mampu menawarkan kerangka etis untuk mengelola pluralitas dan konflik di masyarakat modern. Jawaban yang ditawarkan bukan melalui konfrontasi, melainkan melalui moderasi, keseimbangan, dan keadilan—nilai-nilai yang, sebagaimana ditegaskan Sarmuji, tidak kehilangan daya pakainya meski konteks zamannya telah bergeser secara drastis.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab?Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab matter?Sekjen Golkar nilai pemikiran Mbah Wahab matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.